Kisah UKM Hebat

Arbani : Waktu Luang Tak Boleh Disia-siakan

Share : 01 April 2019

Menjadi seorang petani yang mendapatkan predikat UMKM Mandiri Pertanian Terbaik dari Yayasan Dharma Bhakti Astra tentunya bukan merupakan sesuatu yang mudah karena untuk mendapatkan status tersebut, UMKM tersebut harus memenuhi standar yang cukup tinggi di bidang manajemen produksi, keuangan, SDM, pemasaran, dan LK3 serta CSR. Namun, di tahun 2018 lalu, Arbani berhasil mendapatkan predikat tersebut.

Perkenalan Arbani dengan dunia pertanian dimulai di tahun 2011 ketika ia mencari pekerjaan untuk memanfaatkan waktu luangnya. Saat itu, ia pun memilih perkebunan karet sebagai penambah penghasilannya, di samping pekerjaannya saat itu mengajar agama di Madrasah Al Khairiyah di Desa 3A. Kemudian selang dua tahun kemudian, ia diajak oleh Misrani, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kayuh Baimbai di Desa 3A, untuk membantu mengolah lahannya. Arbani yang memang sedang mencari kesibukan dan penghasilan tambahan pun mengiyakan. Di tahun itu pula Arbani berkenalan dengan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Banua Prima Persada (Baprida). Perkenalannya dengan LPB ini sangat disyukuri karena memberikannya banyak ilmu dan pemahaman baru dalam mengelola pertanian. “Banyak lah manfaat LPB buat kami, mulai dari pelatihan pupuk, pembukuan, segala macam kami ikuti. Itu benar-benar mengubah kami menjadi lebih baik”. Peningkatan keterampilan dan juga hasil yang didapatkan membuatnya semakin bersemangat dalam menekuni usaha pertanian dan perkebunan. “Kami jadi makin semangat karena melihat perkembangannya positif” ujarnya.

Arbani terus berusaha dengan gigih dan menunjukkan hasil yang baik, hingga pada tahun 2015 ia telah memiliki modal yang cukup untuk mengelola lahan bersama seorang temannya. Dan akhirnya, pada tahun 2017, Arbani berhasil memiliki modal yang cukup untuk bisa menggarap lahan sendiri yang saat ini berukuran sekitar 5 borongan (1 borongan = 1/6 hektar). Di lahannya ini, Arbani bercocok tanam kacang-kacangan, cabai, timun, dan beberapa tanaman hortikultura lainnya.

Walaupun kini sudah memiliki lahan sendiri, Arbani tetap tidak jumawa dan tidak meninggalkan pekerjaannya mengajar di madrasah setiap harinya. “Ya gapapa Pak, daripada kita diam saja kan, daripada waktu luangnya sia-sia” Tak hanya mengajar para murid asuhnya mengaji, Arbani mulai turut menularkan ilmu pertaniannya kepada mereka. Walaupun usianya yang kini masih berkepala tiga masih cukup muda dibandingkan para petani lainnya, tak menyurutkan langkahnya untuk dapat berprestasi dan sukses sebagai seorang petani hortikultura.

Artikel selanjutnya