Pegiat UKM Hebat

Arif Rakhmanto, Nikmat Kerja Sambil Ibadah

Share : 06 July 2017
Berbagai pekerjaan telah dilakoni Arif Rakhmanto sebelum jadi koordinator Lembaga Pengembangan Bisnis Mitra Bersama Yogyakarta. Hingga akhirnya ia termotivasi memajukan usaha kecil dan menengah.

Sebelum menjadi Koordinator Lembaga Pengembangan Bisnis Yogyakarta, Arif Rakhmanto pernah melakoni berbagai macam pekerjaan. Mulai dari berwirausaha mendirikan wedding organizer hingga menjadi analis kredit di bank nasional ternama.

Sebagai pegawai bank pemerintah, sebetulnya posisi Arif sudah cukup mapan. Ia pun memperoleh penghasilan yang cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Namun ia belum sampai hati meninggalkan usaha wedding organizer yang dirintisnya bersama seorang teman, Taufik Taufani. “Akhirnya pada 2010, saya menjalani kedua-duanya,” kata Arif.

Sehari-hari, Arif berkantor di Temanggung, kota kecil di sebelah utara Yogyakarta. Namun pada suatu hari, ia memiliki janji temu dengan klien di Yogyakarta. “Saya janji bertemu hari itu jam 19.30, tapi baru berangkat saat maghrib,” kata Arif. Artinya, ia hanya punya selang waktu yang sempit untuk menempuh perjalanan sejauh 80 kilometer dari tempatnya bekerja.

Pada hari itu hujan turun lumayan lebat. Nasib buruk menghampiri Arif di sebuah kelokan di antara Temanggung-Yogyakarta. Ketika itu, sebuah mobil menyalip kendaraan lain dari arah depan dan menyerobot jalur di mana Arif berada. Membuatnya terpaksa menepi ke kiri.

Bilur hujan yang membasahi kaca helm Arif saat itu sedikit mengganggu pandangannya. Membuat ia tak melihat bahwa aspal di sisi kiri jalan sudah habis. Arif tergelincir dan terjungkal di sisi jalan. Tangan kirinya patah. “Gara-gara kecelakaan itu, ibu minta saya meninggalkan pekerjaan sebagai WO,” kata pria kelahiran 7 Agustus 1978.

Menurut Arif, pada dasarnya ia adalah orang yang aktif dan suka berorganisasi. Bahkan saat kuliah di Jurusan Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional, Yogyakarta, ia kerap menyibukkan diri dengan membuat berbagai acara bersama event organizer. Namun akibat kecelakaan itu, ia pun berpikir ulang akan karier macam apa yang hendak ditempuhnya.

Hingga pada 2012, Arif bergabung dengan LPB Mitra Bersama Yogyakarta. Arif adalah koordinator pertama LPB Yogyakarta dan masih menjabat hingga kini. Rekan kerjanya sejak lima tahun lalu juga tak pernah berganti. Mereka adalah Nanang Abadi yang bekerja sebagai Kepala Bagian Umum dan Fransisca Wisni Kristanti sebagai Fasilitator LPB.

Di kantor baru itu, Arif membuktikan bahwa ia bukan anak kemarin sore untuk urusan dorong-mendorong Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Sebab sejak bekerja di bank, ia telah banyak berurusan dengan usaha kecil yang digerakkan oleh orang-orang bersemangat besar. “Sebagai analis kredit, tentu saya banyak berurusan dengan penggerak UKM,” kata Arif. Ia dibebankan tanggung jawab agar para kreditor tidak mengalami kerugian yang berimbas naiknya angka kredit macet di bank tempat ia bekerja. “Setiap akhir bulan kami selalu ditarget membuat kredit macet seminim mungkin,” katanya.

Untuk urusan pekerjaan, Arif mengaku gawean yang sekarang lah yang paling membuatnya betah. Kerja di bank memang banyak untungnya. Yang pertama, kata Arif, prestisius di mata keluarga. Kedua, gajinya juga lumayan. Tapi minusnya terbilang banyak. Saban akhir bulan ia pasti dibuat stres oleh tensi kerja yang tinggi. Begitu mulai bulan baru, belum sempat banyak istirahat, ia sudah didera lagi oleh target-target baru.

Kerja di LPB agak beda dengan di bank. Di mata keluarganya, bekerja di LPB kilaunya kalah kinclong dengan bekerja di bank. “Sampai sekarang saudara-saudara tahunya saya masih kerja di bank, karena sulit menjelaskan jenis pekerjaan di LPB,” kata Arif. Tapi ada satu hal yang membuat Arif dengan yakin menyatakan bahwa kantor ia bekerja sekarang adalah tempat terbaik dari seluruh pekerjaan yang ia pernah lakoni sepanjang karier.

“Di sini saya kerja sambil beribadah,” katanya. “Bukannya sok merasa berjasa, saya merasa membantu memajukan UKM juga adalah sebuah ibadah.”

Hingga 2017, tercatat sekitar 280 UKM yang menjadi rekan mitra LPB Yogyakarta. Rata-rata, tiap UKM punya 3-7 karyawan. Dari seluruh mitra itu, hanya sekitar 150 UKM saja yang aktif. Nyaris separuh dari UKM yang aktif itu adalah usaha yang bergerak di bidang kerajinan tangan. Sedangkan sebanyak 30 persen di antaranya berasal dari bidang otomotif yakni pengusaha bengkel roda empat, dan 20 persen sisanya adalah manufaktur alumunium.

Bidang yang paling diunggulkan oleh LPB Yogyakarta adalah manufaktur alumunium. Bahkan Arif secara khusus menjadi pendamping bidang unggulan manufaktur alumunium, yang antara lain membuat barang-barang seperti wajan, panci, teflon, hingga perkakas alat kesehatan.

Prioritas bagi LPB Yogyakarta sendiri adalah meningkatkan kapasitas semua UKM, hingga menjadi mandiri. Hal ini sejalan dengan rapat kerja tahunan yang diadakan bersama Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Untuk mencapai hal itu, kata Arif, sama sekali bukan perkara mudah.

"Dari 280-an UKM yang menjadi mitra, baru satu saja yang memenuhi kriteria UKM mandiri, yakni ED Alumunium yang banyak memproduksi wajan, panci, dandang, dan aneka cetakan kue," ujar Arif.

Berlokasi di daerah Giwangan, Yogyakarta, ED Alumunium dinyatakan mandiri karena telah memenuhi lima pilar kemandirian, mencakup pengelolaan sumber daya manusia yang baik; manajemen produksi yang berkesinambungan; mampu mengakses pasar dengan mudah; mengelola keuangan dengan rapi; serta menjalankan pertanggungjawaban sosial.

Menggelar pelatihan-pelatihan adalah salah satu cara meningkatkan kapasitas UKM. Pelatihan yang digelar macam-macam, mulai dari yang umum membahas keorganisasian dan keuangan, sampai yang spesifik seperti pelatihan membuat foto produk. Pelatihan foto produk, misalnya, adalah pelatihan yang akan digelar merespon permintaan para pegiat UKM kerajinan tangan. Seringkali mereka terkendala membuat produk mereka tampak menarik untuk dijual lewat online.

Dari para pengrajin, LPB Yogyakarta sering mendengar keluhan bahwa pelatihan yang digelar seringkali kalah menarik dengan pelatihan dari pemerintah. Bukan soal materinya kurang menarik, tapi soal hal-hal lain seperti uang transport dan sejenisnya. Tapi memang sudah prinsip LPB tidak memberi uang sebagai pendorong, melainkan ilmu, sebab ilmu diyakini memberi manfaat berkepanjangan tak seperti uang yang hanya memberi manfaat jangka pendek.

Sebesar apapun kendala yang dihadapi, LPB Yogyakarta akan terus mengusahakan mendorong banyak UKM di Yogyakarta menjadi mandiri, karena memang itu target dan tujuan berdirinya LPB. “Walaupun tidak mudah, tapi tetap cita-cita kami adalah menjadikan UKM-UKM itu mandiri dan berkesinambungan,” kata Arif. "Sesuai dengan semangat YDBA."

Artikel selanjutnya