Administrator 102 post
Kolom

BANGUN USAHA BENGKEL BUKAN SEKADAR KUAT DI HAL TEKNIS

Share : 18 May 2020
Setelah pensiun dari PT Astra Daihatsu Motor pada tahun 2015, Ch. Endro Utomo, atau sering disapa Endro, diajak oleh Sekretaris Pengurus YDBA waktu itu, Muhammad Iqbal, untuk bisa membagikan ilmu-ilmu manajerial kepada UMKM Mitra YDBA. Endro pun tergerak untuk mengabdikan dirinya dengan membina UMKM. Pada bulan Juni 2016, pertama kalinya Endro menjadi instruktur pelatihan manajemen kepada UMKM di kantor YDBA, Sunter, Jakarta.  
 
Keaktifan Endro dalam memberikan pelatihan dan pendampingan di bidang perbengkelan membuat Endro diajak oleh tim Perencanaan dan Pengembangan YDBA untuk menjadi Ayah Angkat “Expert” untuk Sektor Unggulan Bengkel di Waru, Jawa Timur, yang beranggotakan UMKM Bengkel HBBA Jawa Timur. Sejak tahun 2018 inilah, Endro mulai sering melakukan perjalanan rutin ke Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan untuk melatih serta mendampingi para UMKM Bengkel di sana.  
 
Seringnya berinteraksi dengan orang-orang bengkel, membuat Endro bisa melihat berbagai hal yang sebaiknya dapat dibenahi. Misalnya saja, ketika mereka membuka bengkel, mereka hanya bermodal nekat dan sekadar bisa membuka-buka komponen mobil saja. Mereka juga belum memiliki perencanaan yang matang dalam mengembangkan usaha bengkelnya. “Secara teknis mereka sudah unggul, namun secara manajerial mereka belum memadai,” kata Endro. Maka dari itu, Endro mencoba menawarkan beberapa program pelatihan dan pendampingan non teknis seperti Service Advisor dan Standar Pelayanan Bengkel Roda Empat. Dengan mendampingi sektor unggulan ini, Endro memiliki misi agar UMKM dapat menjalankan usaha bengkelnya secara mandiri dan berkelanjutan.  
 
Pertama-tama, Endro mencoba untuk mengubah mindset para UMKM agar bukan sekadar memperbaiki kendaraan customer lalu selesai begitu saja. Endro lalu memperkenalkan prinsip “Layani pemiliknya, perbaiki mobilnya”. “Awalnya banyak yang menolak hal ini, tapi saya bilang kalau semua bisnis itu mengandung risiko. Risiko itu bisa merugikan. Kita tidak bisa menghilangkan risiko, hanya bisa menekannya saja. Disinilah peran Service Advisor sangat diperlukan,” jelas Endro. Melalui pembelajaran Service Advisor, UMKM dapat memahami bahwa perlu ada personil yang memastikan kendaraan yang masuk bengkel, kerusakan apa saja yang perlu diperbaiki, berapa biaya perbaikannya, waktu perbaikan, dan memastikan kendaraan sudah layak digunakan kembali. Menurut Endro, menjadi Service Advisor itu ada ‘seni’-nya dalam mengatur emosi, supaya customer bisa puas dengan pelayanan bengkel. 
 
Selain itu, Endro juga melihat ada beberapa aktivitas di dalam bengkel yang belum terstandar, sehingga sering membuat ketidakpastian dan kebingungan kepada customer. Endro pun akhirnya juga menginisiasi untuk mengadakan pelatihan dan pendampingan Standar Pelayanan Bengkel Roda Empat, di mana Service Advisor adalah aspek pendukungnya. Bagi Endro, salah satu hal menarik dari pembelajaran standar pelayanan bengkel adalah saat seorang Service Advisor harus mengucapkan “Selamat datang di Bengkel X, anggota HBBA Jawa Timur” dengan menyebutkan nama bengkel yang lengkap, padahal customer sudah tahu nama bengkelnya.  “Kalau semua bengkel HBBA Jawa Timur bisa menerapkan sambutan yang sama, customer pun jadi paham bahwa seluruh bengkel yang anggota HBBA Jawa Timur sudah punya standar pelayanan yang sama,” ujar Endro. Sehingga ke depannya, citra bengkel HBBA Jawa Timur bisa terbangun dengan image yang baik.  
 
Endro berharap agar proses pelatihan dan pendampingan untuk UMKM Bengkel ini tidak hanya sebuah formalitas dan menganggap bahwa kesulitan yang ditemui adalah hal yang wajar. “Bengkel HBBA Jawa Timur harus berbeda dari bengkel-bengkel umum lainnya. Pastikan semua aktivitas di bengkel itu ada ukuran dan standarnya. Karena semua itu untuk kepuasan pelanggan dan pelanggan mau kembali menggunakan jasa bengkel HBBA Jawa Timur,” kata Endro menutup ceritanya.  
Artikel selanjutnya