Inspirasi Wirausaha

Belajar Pemasaran Cerdas Ala IKEA Indonesia

Share : 28 February 2018
Mendengar nama IKEA, kita mungkin langsung teringat IKEA Store yang nyaman, penuh dengan berbagai benda perlengkapan rumah tangga, atau mungkin spot-spot ‘instagrammable’ yang seringkali menghiasi linimasa Facebook atau Instagram kita. Namun, apakah hanya itu yang dapat kita ketahui tentang IKEA?
Beberapa waktu lalu, tim Yayasan Dharma Bhakti Astra berkesempatan untuk berdiskusi dengan General Manager IKEA Indonesia, Mark Magee yang juga memberikan banyak wawasan baru tentang pemasaran cerdas yang dilakukan oleh IKEA Indonesia. Berikut beberapa diantaranya. 
Proses Produksi Yang Terencana Namun Tidak Kaku
Produk yang dijual di IKEA dirancang oleh para desainer handal yang memang direkrut untuk membuat produk yang terbaik dan nyaman bagi para pelanggan. Hasil karya para desainer ini kemudian akan diproduksi oleh IKEA maupun perusahaan-perusahaan yang telah ditunjuk sebagai subkontraktornya. Setelah diproduksi, kemudian produk-produk tersebut didistribusikan ke lebih dari 400 IKEA Store di seluruh dunia. Dengan desain dan produksi yang tersentralisasi ini, IKEA berusaha untuk mempertahankan cita rasa khas IKEA yang sama di setiap storenya di seluruh dunia. 
Namun, di samping itu IKEA juga memiliki kebijakan khusus untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat global yang beragam. Jika kondisinya memang dibutuhkan, IKEA memiliki kebijakan produk ‘free range’, yaitu produk yang hanya dibuat di sebuah negara karena kebutuhan dari negara tersebut yang tidak dapat diakomodasi oleh produk IKEA global. Melalai kebijakan ini, IKEA berusaha untuk menjadai perusahaan ritel yang benar-benar memahami pelanggannya. Selain adanya produk ‘free range’, manajemen IKEA setiap tahun pun berkunjung langsung ke rumah para pelanggan mereka. Kekuatan Es Krim dan Hotdog
Jika pernah berkunjung ke IKEA, Anda pastinya pernah melihat antrean yang cukup panjang di daerah depan kasir. Ya, antrean tersebut merupakan para pengunjung yang ingin membeli dua hidangan yang paling dicari di IKEA. Swedish Meatballs? Bukan. Salmon? French Fries? Bukan.  Dua hidangan tersebut ternyata adalah Es Krim dan Hotdog. 
Pertanyaanya kemudian, kenapa es krim dan hotdog? Jawabannya sederhana, murah. Ya, di ritel modern sekelas IKEA, menemukan makanan seharga empat ribu rupiah dengan rasa yang enak tentunya mungkin agak sulit dipercaya. Tapi begitulah IKEA. Es krim dan hot dog yang masing-masing dijual hanya di kisaran 4-5 ribu rupiah tentunya sangat mengundang para pengunjung untuk membelinya. Namun, rupanya es krim dan hot dog murah tersebut telah dirancang sedemikian rupa bukan untuk memberikan keuntungan langsung melalui penjualannya setiap hari, tetapi digunakan sebagai ‘senjata psikologis’ untuk memberikan kesan kepada pengunjung IKEA bahwa barang-barang yang dijual di IKEA memiliki harga yang bagus, alias terjangkau. Cerdas bukan?
Berbagai strategi dari IKEA tersebut menunjukkan betapa seriusnya IKEA dalam memahami para pelanggannya. Mulai dari mengetahui pola hidup mereka, mengetahui kondisi psikologis mereka, hingga mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai oleh para pelanggan. Mereka sadar betul bahwa yang mereka jual bukanlah sebatas komoditas, melainkan sebuah experience, pengalaman bersama IKEA yang tentunya tak tergantikan. Tak ayal, IKEA pun berkembang pesat menjadi ritel modern yang terkemuka di dunia dan dikenal sebagai ritel yang ‘bukan sekadar ritel’.
 

Artikel selanjutnya