Kisah UKM Hebat

Bengkel Mutiara Ban, Selangkah Lebih di Depan

Share : 17 November 2017
Sebuah mobil warna silver mampir ke Bengkel Mutiara Ban, Kamis sore, 3 Agustus 2017. Kendaraan tersebut masuk melalui gerbang berbentuk setengah lingkaran berwarna merah yang merupakan jalur untuk cuci mobil otomatis. Setelah melewati tanda panah bertuliskan “cuci robot”, empat petugas cuci langsung menghampiri dan menyirami mobil dengan semprotan air yang deras. Tidak ketinggalan menggosok beberapa bagian mobil dengan sikat dan sabun.
“Ini adalah service tambahan yang tersedia pada semua bengkel cuci robot di seluruh Indonesia,” kata Pengelola Bengkel Mutiara Ban, Ahmad Yusup Silitonga kepada tim hebatnyaukm.org.
Seharusnya, kata Joesoef, semua proses “cuci robot” dilakukan secara otomatis. “Tetapi, karena di Indonesia masih ada jalan becek dan berlumpur yang membuat ban sangat kotor, maka perlu ditambahkan cuci manual,” ujarnya.
Setelah keempat petugas menyelesaikan pekerjaannya, mobil itu masuk ke dalam alat cuci robot sebenarnya. Pelayanan cuci robot adalah salah satu keunggulan Bengkel Mutiara Ban, sebagai salah satu jasa cuci mobil yang paling awal menyediakan fasilitas ini di kawasan Margonda, Depok.
Cikal bakal Bengkel Mutiara Ban Mutiara dirintis sejak awal era 1980. Pendiri Bengkel Mutiara Ban sebenarnya adalah mertua Yusup, Mubin Usman. Mubin sendiri merupakan pengusaha di bidang pertanian yang berlokasi di Jalan Margonda, Depok. Di bawah bendera Wijaya Tani, Mubin menjual berbagai bibit tanaman bersertifikat dari Kementerian Pertanian.
"Mertua saya pandai melihat peluang usaha. Saat melihat perkembangan, pembangunan, dan pertumbuhan di Depok, ia mulai mencoba membuka usaha yang berhubungan dengan otomotif, seperti bensin eceran dan pelumas," cerita Yusup. "Usaha yang dibangun di sudut tanah Wijaya Tani itu diberi nama Kurnia."
Pada pertengahan 1980-an, ketika Perumnas Depok mulai ditempati dan Universitas Indonesia mulai pindah ke lokasi ini, jumlah kendaraan yang wara-wiri pun semakin banyak. Menurut Yusup, kondisi inilah yang membuat bisnis penjualan produk otomotif di sudut tanah Wijaya Tani mulai berkembang. Bahkan banyak supplier produk otomotif yang menawarkan kerja sama agar bisa menjual barangnya di Toko Kurnia, seperti busi, hingga spare part lainnya.
Akhir era 1980-an, Mubin mulai berani mencoba usaha bengkel motor dan mobil. “Mertua saya tidak mengerti mesin. Maka memakai tenaga teknisi,” kata Yusup.
Pertambahan jumlah kendaraan di Depok membuat usaha bengkel Mubin semakin berkembang. Nama bengkel pun diganti menjadi Wijaya Motor, disamakan dengan usaha pertanian milik Mubin. Kemudian, pada awal tahun 1990-an, Mubin membuat lompatan pada usaha bengkelnya dengan menambah layanan cuci mobil.
Masih cerita Yusup, sang mertua memang selalu menerapkan strategi selangkah lebih di depan pada bisnisnya. “Dulu, ketika semua orang mencuci mobil dengan naik tangga, kami salah satu yang pertama kali punya single post atau hidrolik cuci mobil di sekitar Margonda,” kata Yusup.
Selain itu, Wijaya Motor juga menjadi salah satu bengkel yang memiliki mesin spooring atau alat untuk menstabilkan setelan roda, lebih awal dibandingkan dengan bengkel lain di Depok. Mesin spooring inilah yang bisa mengangkat brand Wijaya Motor dan menjadi alat promosi. Menurut Yusup, langkah bisnis yang dijalankan mertuanya selama 1980-1990-an sudah tepat dan menghasilkan kepercayaan pelanggan. “Saat itu, bengkel cuci ini selalu antre kalau Sabtu dan Minggu,” ujar Yusup.
Salah satu tantangan awal yang dihadapi Mubin saat merintis usaha di bidang otomotif ini adalah menghadapi pergaulan di antara sesama pengusaha bengkel. Sebab Mubin adalah orang pertama di dalam keluarga yang berusaha melakukan bisnis bengkel. Sementara, pebisnis bengkel yang ada saat itu merupakan penerus bisnis keluarga. Maka, ketika Mubin bergabung dengan perkumpulan pengusaha bengkel yang lain, ia merasakan seperti ada resistensi.
Tapi, Mubin terus berusaha untuk beradaptasi. Dia mengincar prinsipal besar agar mau bekerja sama dengan Wijaya Motor. "Menurut mertua saya, dalam bisnis bengkel, nama Wijaya Motor tidak bisa berdiri sendiri. Perlu ada spanduk atau nama pemain otomotif besar lainnya yang mendampingi," kata Yusup.
Akhirnya, Mubin menjalin bekerja sama dengan Goodyear dan oli STP. Bahkan nama kedua brand besar itu mejeng di depan bengkel Wijaya Motor. “Mertua saya berusaha agar bengkel terlihat eksis,” kata Yusup. Setelah mengenal prinsipal besar, Mubin sering diajak tour dan akhirnya bisa menembus pergaulan pengusaha bengkel.
Sekitar tahun 1995, Mubin mulai keteteran mengurus dua usahanya. Saat itu, pesanan bibit pohon sedang meningkat, sehingga ia harus lebih berkonsentrasi pada usaha pertaniannya dan meminta Yusup untuk mulai membantu usaha bengkel yang telah bercabang dua: Wijaya Motor dan Mutiara Ban.
Pada awalnya, Yusup harus membenahi manajemen keluarga yang masih sangat tradisional di bengkel, dan membangun sistem serta struktur organisasi. Bahkan menurut Yusup, pekerjaan rumahnya sebagai penerus usaha keluarga dari generasi kedua sangatlah banyak. Apalagi ia tidak memiliki latar belakang manajemen, pun tak paham soal teknis perbengkelan.
"Mewarisi bisnis yang dijalankan dengan manajemen keluarga cukup sulit dan rumit," kata dia. Sebab meski secara de jure Yusup memegang kuasa, namun dalam realitanya, tak jarang para orangtualah yang memiliki keputusan. “Transisi bisnis manajemen keluarga memang krusial, sebab orangtua harus tetap diberi ruang untuk kebijakan strategis," ujar Yusup. "Salah-salah generasi kedua malah bisa shock. Ilmu dari buku hebat sekalipun akan kalah dengan orangtua punya keputusan.”
Yusup baru benar-benar bisa membenahi manajemen bengkel ketika bergabung dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), pada 2010. Apalagi ketika tim YDBA melakukan penilaian terhadap UKM yang ada di bawahnya. Saat itu, Yusup memperoleh pertanyaan tentang biaya operasional Bengkel Mutiara Ban, yang mau tidak mau membuatnya membenahi pencatatan dan pendataan. “Pada akhirnya, kami jadi membenahi diri sendiri dan menjadi UKM mandiri," kata dia.
Setelah penilaian YDBA, Yusup pun mulai menyadari bahwa kekurangan bengkel umum yang terbesar adalah perencanaan. Kebanyakan UKM tidak tahu saat ditanya tentang perencanaan keuangan, sistem anggaran, biaya tahun lalu, dan proyeksi ke depan. Padahal agar bengkel bisa berjalan berkesinambungan perlu adanya sistem otomatis. Jadi ketika pemilik bengkel pergi, sudah ada sistem organisasi yang menggerakan kerja karyawan. Sementara bila tidak ada, pemilik bengkel mungkin tidak berani meninggalkan usahanya selama lebih dari dua bulan.
Yusup sendiri menyadari jika tantangan UKM bengkel akan semakin besar di kemudian hari. Apalagi saat ini, sebuah waralaba bengkel dari Jepang sudah hadir di Surabaya. “Mereka menjual produk otomotif di gedung setinggi tiga sampai empat lantai, kemudian di bawahnya ada layanan bengkel,” kata Yusup. Belum lagi keterlibatan pengusaha besar dalam negeri yang juga masuk ke bisnis bengkel yang akan diwaralabakan dan bergandengan dengan salah satu supermarket terkenal di Indonesia.
Menurut Yusup, UKM bengkel akan sulit melawan korporasi besar di mana sistem dipikirkan di satu kantor pusat oleh para ahli. Kemudian hasil pemikiran itu dijalankan pada operasional sehari-hari di seluruh Indonesia. "Sedangkan kami, para pengusaha UKM bengkel harus berpikir sendiri, untuk menjalankan dan menjaga kelangsungan hidup usaha," kata dia.
Joeseoef sendiri ingin bisa menjalankan strategi selangkah lebih di depan seperti saat mertuanya. Namun perubahan zaman begitu cepat membuatnya harus berpikir keras dan memanfaatkan berbagai "persenjataan" untuk melawan persaingan bisnis. "Misalnya dengan perkembangan digitalisasi, kami bisa saja menjual produk secara online," kata Yusup. 

Ktrgagh 0 post
Jcu63X jtcsvxmiuzyk, [url=http://ugockghchqky.com/]ugockghchqky[/url], [link=http://tkaxzyzfuvxo.com/]tkaxzyzfuvxo[/link], http://hdsfetjjqpaw.com/
Artikel selanjutnya