Inspirasi Wirausaha

Berbagi Peran, Manfaat terasa

Share : 25 November 2019

Oleh Koordinator LPB Tarikolot, Anugrah

 

Tentunya kita masih ingat betul dahulu pekerjaan apa saja yang proses kerja utamanya masih dilakukan oleh manusia. Sebut saja penjaga tol/tiket parkir, sistem penggajian, pengambilan uang di Bank, loper koran, tukang foto keliling, dan sebagainya. Dengan berjalannya waktu dan semakin canggihnya teknologi, pekerjaan yang biasanya dikerjakan dengan menggunakan tenaga manusia saat ini lambat laun akan tergantikan oleh mesin otomatis. Tentu saja karena penggunaan mesin otomatis ini memungkinkan peningkatan produktivitas sekaligus mengurangi cost. Tapi, hal ini tentu saja memberikan efek samping mengkhawatirkan, lantas peran manusia yang tergantikan itu mau kemana? Pindah kerja ke tempat lain yang belum menerapkan high technology? Atau alih profesi? Dan lebih parahnya lagi berdampak pada semakin bertambahnya angka pengangguran.

 

Fenomena di atas beberapa waktu lalu ramai dibicarakan seantero nasional. Namun jangan khawatir, masih ada beberapa pekerjaan yang mutlak membutuhkan sentuhan langsung tangan manusia. Salah satunya adalah pekerjaan membina UMKM.

 

Sedikit berbagi cerita, saat ini saya bermitra dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra untuk menjalankan program pembinaan bagi UMKM agar terciptanya kemandirian dan meningkatnya pertumbuhan ekonomi berbasis kemasyarakatan. Penugasan pertama adalah di LPB TOPPAMA di daerah terpencil, Desa Buhut, Kecamatan Kapuas Kalimantan Tengah yang mana untuk menuju ke lokasi tersebut harus dengan perjuangan apalagi kalau cuaca sedang buruk. Lokasi tersebut kurang lebih berjarak 120 km dari bandara Palangkaraya di mana setengah perjalan tanpa aspal alias tanah merah. Waktu perjalanan kurang lebih selama 6 sampai 7 jam. Sebagai seorang fasilitator baru di LPB tersebut harus menjalankan program pelatihan dan pendampingan di sektor perkebunan karet dan pertanian hortikultura. Dengan latar belakang tradisi budaya yang melekat pada masyarakat binaan, tentunya hal demikian harus dibarengi dengan pola pendekatan yang diterima oleh penduduk setempat agar program pembinaan dapat tersampaikan dan terlaksanakan dengan efektif. Setelah beberapa tahun berkarya, saya mendapatkan penugasan baru di LPB Pama Bessai Berinta di daerah Kutai Timur, Kalimantan Timur. LPB tersebut berjarak kurang lebih 150 km dari bandara Balikpapan. Sektor unggulan yang difokuskan di sana adalah pertanian padi organik. Saat itu bersama tim melakukan kegiatan mapping ke berbagai lokasi UMKM. Keluhan yang diutarakan pelaku usaha ini adalah turunnya hasil panen, meledaknya hama pada tanaman padi, ataupun ketergantungan petani pada pemakaian pupuk sintetis padahal harga kian hari kian melejit. Setelah berdiskusi panjang dengan expert sektor unggulan ini, yaitu pemilik konsultan Aliksa Organik, Alik Sutaryat, maka LPB mengkampanyekan konsep Pertanian Sehat Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan hingga saat ini.

 

Setelah selesai bertugas di tanah Kalimantan, kini saya bertugas di LPB Tarikolot yang berada di Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor dengan menjalankan program yang baru bagi saya dalam membina UMKM bidang industri logam. Di LPB yang baru diresmikan pada 6 Agustus 2019, saya sebagai koordinator mendapatkan tantangan yang sama besar dalam menjalankan program sektor unggulan.

 

Program sektor unggulan ini mempunyai target dan skema pelatihan dan pendampingan yang diharapkan mampu mendobrak ekonomi UMKM dengan kesiapannya untuk memproduksi barang yang memenuhi standar Quality, Cost dan Delivery.

 

 

 

Artikel selanjutnya