Administrator 84 post
Inspirasi Wirausaha

ERA DISRUPSI AJANG UMKM NAIK KELAS

Share : 10 March 2020


(Gambar: Stock Image hebatnyaukm.org)



Memasuki tahun 2020, tantangan bagi pelaku usaha semakin kompleks. Era disrupsi semakin kental terasa. Era di mana pelaku usaha harus berinovasi jika tidak usahanya akan tertinggal.

Era disrupsi ini lebih diwarnai dengan berbagai inovasi, teknologi, platform dan model bisnis baru. Kita dapat melihat berbagai perusahaan raksasa mulai keluar dari zona nyaman agar tetap eksis. Mengotak-atik bisnis model dan membuat terobosan baru dilakukan demi mengejar relevansi atas perkembangan zaman.

Istilah disrupsi sendiri sudah muncul puluhan tahun lalu dan mulai dikenal setelah dipopulerkan oleh guru besar Harvard Business School, Clayton M dalam bukunya “The Innovator Dilemma” (1997). Disrupsi tidak hanya mengacu pada perubahan tetapi mencakup perubahan besar yang mengubah tatanan dengan karakteristik perubahan yang sangat mendasar terkait model bisnis dan dimulai melalui pasar bawah.

Perusahaan pemimpin pasar terus melakukan inovasi untuk mempertahankan pertumbuhan dan pasar tetapi perusahaan baru membuat model bisnis baru yang berbeda dari sebelumnya. Misalnya, department store terus melakukan inovasi seperti promo menarik dan peningkatan kualitas tempat. Namun, semua itu bisa dijungkirbalikkan oleh perusahaan aplikasi online yang menyediakan marketplace yang mudah dan lebih murah dibandingkan belanja di department store.


(Ilustrasi: designed by Kues)

 

Ditengah perlombaan para perusahaan besar untuk menciptakan disrupsi agar tetap hidup, UMKM dapat melihat momen ini sebagai peluang besar untuk naik kelas. Perusahaan mulai beramai-ramai menggandeng dan memberdayakan UMKM dalam strategi inovatifnya.

Selain sebagai bentuk terobosan baru dalam model bisnis yang memberdayakan UMKM tetapi potensi dari UMKM sendiri yang dinilai sangat baik. Secara makro, UMKM memberi kontribusi yang cukup signifikan. Menurut laporan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop), pada tahun 2018 UMKM memberi pangsa sekitar 99,99% (64,2 juta unit) dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia, sementara usaha besar hanya sekitar 0,01% (5500 unit).

Secara angka penyerapan tenaga kerja pun, UMKM juga memberikan kontribusi yang signifikan. Pada tahun 2018 tercatat bahwa sekitar 97% (116,9 juta orang) berhasil diserap oleh UMKM. Sedangkan usaha besar tidak mencapai seperempatnya dengan persentase hanya 3,18% (3,6 juta).

Dengan potensi tersebut cukup menjadi alasan kenapa menggandeng UMKM adalah langkah yang tepat. Namun, ada suatu hal yang mampu meningkatkan potensi tersebut, yaitu berkolaborasi dengan ekonomi digital. Ekonomi digital mendapatkan atensi yang cukup tinggi bagi para pelaku usaha. Apalagi porsi ekonomi Indonesia yang ditawarkan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dengan nilai transaksi sebesar US$ 40 miliar yang diproyeksikan akan terus tumbuh menjadi US$ 133 miliar pada tahun 2025.

Hal ini ditambah dengan komitmen pemerintah yang ambisius untuk meningkatkan jumlah usaha rintisan lokal berstatus unicorn. Ditambah beberapa dukungan UMKM untuk go online dan memanfaatkan teknologi digital agar tidak kalah bersaing.

Baca Juga: UMKM HARUS MELEK TEKNOLOGI



(Ilustrasi: designed by rawpixel.com)

Beberapa hal tersebut dapat menjadi modal bagi UMKM untuk naik kelas dan melepaskan Indonesia dari jebakan kelas menengah. Secara singkat dapat dikondisikan kedalam dua cara agar UMKM bisa naik kelas. Pertama, memanfaatkan teknologi digital tidak hanya ekonomi digital tetapi juga teknologi dalam proses produksi dan manajemen perusahaan. Kedua, menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dengan Good Corporate Governance (GCG).

Dalam hal akses ke teknologi sudah mulai digencarkan oleh berbagai pihak. Hanya saja penerapan GCG di UMKM Indonesia belum maksimal. Indeks GCG Indonesia saja masih rendah dibandingkan Malaysia, Singapura dan Filipina. Padahal dengan menerapkan GCG dapat menjamin kualitas dan keberlangsungan UMKM.

Setidaknya dengan mengupayakan dua hal tersebut, yaitu pemanfaatan teknologi dan tata kelola perusahaan dengan GCG sudah memberikan peluang UMKM untuk terus mengarungi persaingan usaha yang ada. Ditambah komitmen dan usaha yang konsisten bukan hal yang mustahil UMKM bisa naik kelas ditengah era disrupsi ini.


Sumber:

Bari, Abdul. 2018. Geliat UMKM dan Era Disrupsi. Site: Ekonomi.kompas.com

Eriyanto, E. 2018. Disrupsi. Jurnal Komunikasi Indonesia. Universitas Indonesia: Depok.

Kusuma, Teddy. 2017. Good Corporate Governance. Site: Kumparan.com

Rowie, M. Muchlas. 2020. Tata Kelola IMKM di Era Disrupsi. Site: Monitorday.com

Ilustrasi: Designed by rawpixel.com. Site: freepik.com

Artikel selanjutnya