Pegiat UKM Hebat

Falah : Rela Begadang Demi Kumpul dengan UMKM

Share : 06 July 2017

Achmad Nur Falakhudin sudah berkecimpung di dunia sosial ketika masih menjadi mahasiswa teknis mesin di sebuah perguruan tinggi swasta di Tegal, Jawa Tengah. Totalitasnya dalam bekerja membuat pria 26 tahun ini dipercaya menjadi koordinator Lembaga Pengembahan Bisnis (LPB) Mitra Bersama Waru, Sidoarjo, sejak 2016.

LPB Mitra Bersama Waru merupakan satu dari 12 lembaga pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dibentuk Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) sebagai pendorong usaha usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Lembaga ini berperan dalam pemberdayaan dan pembinaan UMKM di Jawa Timur khususnya di Waru.

Sebelum menjadi Koordinator LPB Mitra Bersama Waru, Falah--begitu dia disapa--sempat menjadi fasilitator di LPB Tegal selama dua tahun. Falah menjadi bagian dari LPB Tegal lantaran lembaga ini sering bekerja sama dengan dinas terkait di sana untuk memberikan pelatihan UMKM. "Saya sering diperbantukan sebagai fasilitator di LPB Tegal."

Sesuai dengan background jurusannya, Falah memfasilitasi UMKM di sektor manufaktur logam LPB Tegal. Sehingga ketika dipindah ke Sidoarjo, yang mayoritas UMKM-nya juga di sektor logam, ia merasa tidak kesulitan. "Karena tidak jauh beda dengan di Tegal," katanya. Namun, ia butuh waktu adaptasi selama enam bulan karena lembaga ini sempat vakum satu tahun.

Di LPB Mitra Bersama Waru, Falah membina kurang lebih 300 UMKM di seluruh Jawa Timur. Dari jumlah itu, 123 UMKM di antaranya ada di wilayah Kecamatan Waru, Sidoarjo. Dibantu dua rekannya, Azuhri Tri Ahara yang berperan sebagai fasilitator dan Didit Suparno, sebagai administrator, ia bertanggung jawab terhadap semua program: pelatihan, pendampingan, pemasaran, dan pembiayaan.

Program itu bertujuan agar UMKM menjadi mandiri atau berhasil membangun usaha hingga berkembang. Tujuan itu menjadi suatu hal yang menjadi beban sekaligus tantangan bagi dia. Sebab, meski menjabat sebagai koordinator, pada kenyataannya ia juga orang lapangan yang merangkap menjadi fasilitator. "Saya yang menyusun road map dan konsep program selama satu tahun, dan saya juga yang menjalaninya."

Belum lagi, ia dan timnya kerap dipandang sebelah mata oleh para UMKM ketika menawarkam program. Mereka menganggap program pembinaan yang ditawarkan LPB Mitra Bersama Waru tidak berpengaruh pada omzet usaha. "Masih sedikit yang peduli dengan urusan manajerial," kata Falah. Namun hal itu tidak membuatnya putus asa.

Untuk meyakinkan mereka, ia membentuk komunitas dan himpunan UMKM yang sudah berhasil. Di antaranya Waru Manufakture Park (WMP), wadah bagi UMKM di sektor manufaktur logam di wilayah Waru. Selain itu ada himpunan bengkel roda empat. Cara itu terbukti berhasil. "Kami yakinkan mereka dengan contoh," katanya.

Berkat usahanya itu, ia berhasil mengantarkan salah satu UMKM di sektor manufaktur logam menjadi penyuplai spare part di ring 1 PT Astra Honda Motor, yakni PT Rahmat Perdana Adhimetal. Prestasi tersebut membuatnya bangga luar biasa. "Artinya mereka mau berubah dan berhasil menghasilkan keuntungan yang cukup menggiurkan," ujarnya.

Pencapaian itu tidak semerta-merta diraih begitu saja. Ia rela mengorbankan waktu dan tenaga di luar jam kerja kantor. Bahkan begadang sampai tengah malam untuk berkumpul dengan para para UMKM binaan. Pertemuan dan rapat pada malam hari sering dilakukan agar mereka tetap bisa bekerja di siang hari. "Terpaksa merelakan istirahat."

Semua capaian dan perlakukan buruk yang ia dapat tak menyurutkannya menjadi koordinator LPB Mitra Bersama Waru. Menurut pria yang masih lanjang ini, bekerja di dunia sosial adalah sudah manjadi passionnya. Ia juga senang bisa bertemu dengan banyak orang baru. "Tentunya tetap bisa berbagi ilmu," akunya.

Artikel selanjutnya