Administrator 60 post
Kisah UKM Hebat

Iskandar Surya Putra Memasyarakatkan Seni Lukis

Share : 16 August 2017

Apa yang terbersit di pikiran Anda saat melihat seorang seniman? Orang-orang nyentrik dengan gaya berpakaian yang khas. Mereka bisa santai dengan memakai kaus lusuh, memelihara rambut panjang, dan mengenakan topi khas ala Pak Tino Sidin. Tampak keren, tapi terkesan eksklusif. Mungkin cenderung aneh.
Pelukis Iskandar Surya Putra pun merasa masyarakat menganggap dirinya aneh. Dulu, saat masih kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), dia dan rekan-rekannya mengadakan kegiatan melukis di luar kampus. “Warga sekitar sepertinya melihat aktivitas seniman sebagai hal tidak biasa. Jadi, orang-orang tidak mau mendekat,” ujarnya.
Padahal, kata Iskandar, melukis bukan hal eksklusif. Semua orang bisa melukis dengan menggunakan media di sekitar kita. Seperti yang mulai dilakukan Iskandar pada 1979, melukis di atas kaus. Alasannya, media ini lah yang terbilang ramah di kantong anak kuliahan yang tidak punya banyak uang untuk membeli kanvas. Selain itu, Iskandar punya misi tersendiri. Dia mau menyosialisasikan kegiatan melukis kepada masyarakat.
Tahun 1983, masyarakat mulai tertarik dengan kaus bergambar seperti yang diproduksi merk C59. Pada saat itu pula, karya Iskandar mulai dilirik. Dia mendapat pesanan kaus lukis dari beberapa orang teman, kerabat, dan komunitas. Mereka minta dibuatkan berbagai macam gambar mulai dari hewan, bunga, wajah hingga kendaraan.
Memang pemesan kaus lukis tidak banyak, hanya sekitar 3-4 orang sebulan. “Sebab, harganya yang mahal. Saat itu satu kaus lukis dijual Rp15 ribu. Sama dengan biaya menyewa kamar kos selama sebulan,” kata pria kelahiran 10 Maret 1958 tersebut. Makanya, pemesan kaus datang dari kalangan atas seperti komunitas pecinta motor besar.
Meski begitu, Iskandar bersemangat dan mencoba memperkenalkan kaus lukis ke masyarakat luas. Dia dan beberapa kawan pun setuju ketika diminta mengadakan kegiatan melukis kaus di pusat perbelanjaan Bogor Internusa. Sayangnya, acara tersebut tidak mendapat sambutan positif. Tapi, Iskandar tidak menyerah dan terus melukis di atas kaus.
Suatu kali di tahun 1989, Iskandar diundang ke Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa untuk mengenalkan batik. Namun, orang asing justru tertarik pada kaus lukisnya. Iskandar malah memperoleh permintaan untuk pembuatan kaus lukis dari pecinta seni di luar negeri.
Setelah kembali ke Tanah Air, Iskandar masih mengerjakan pesanan kaus lukis dari beberapa orang teman. “Tapi, kami tidak bicara soal harga. Kalau ada teman yang minta saya melukis di atas kaus, dia akan memberikan saya dua buah kaus. Satu kaus untuk digambar, satu lagi untuk stok saya sendiri,” ujarnya. Iskandar menyadari kalau tidak bisa hidup hanya dari lukisan. Hingga ia juga melakoni pekerjaan di sebuah perusahaan pada bidang promosi.
Pada 1993, Iskandar menikah dengan Dyah Rini Ayu, seorang pengusaha keramik. Sejak menikah, Rini ikut mengerjakan usaha kaus lukis sang suami, di sela-sela kesibukannya. Ketika bisnis Iskandar mengalami penurunan atau saat usaha keramik Rini hampir gulung tikar, keduanya terus saling bahu-membahu dalam menjalankan dan mengembangkan bisnis mereka.
Misalnya saja pada awal 2000-an, ada dua teman Iskandar yang tertarik berinvestasi pada usaha kaus lukis bernama Waroeng Kaos. Mereka mempromosikan dan menjual kaos lukis, sampai mengadakan pameran di Singapura. Namun, sambutannya masih belum memuaskan. Kedua rekan Iskandar pun menyerah. Pada 2002, mereka memutuskan untuk menghentikan usaha Waroeng Kaos dan membagi hasil usaha selama ini. Iskandar mendapat bagian beberapa lusin kaus polos.

Iskandar dan Rini sedang bersantai di rumah mereka.

Setelah itu, Iskandar dan istri menghadapi masa surut dalam kehidupan. Pekerjaan Iskandar di perusahaan yang bergerak di bidang promosi tidak lagi bisa diharapkan. Gajinya sering datang terlambat. Sampai akhirnya, dia tidak pernah mendapat penghasilan bulanan. Sementara usaha keramik yang dibangun istrinya pun merugi. “Saya tadinya punya 14 gerai keramik di berbagai kota. Tapi, sejak peristiwa bom WTC, bom Bali, hingga bom Kuningan pembeli menurun drastis,” ujar Rini. Bahkan toko Rini yang berada di Kuningan hancur lebur terkena ledakan bom. Akhirnya, sebanyak 13 dari 14 toko keramik milik Rini pun harus ditutup.
Maka, satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah usaha kaus lukis. Pada 2003, lahirlah Painting on T-Shirt (POT). Modal bisnis mereka saat itu adalah sisa kaus polos dari Waroeng Kaos. Selain itu, usaha ini juga didukung dengan keahlian Iskandar dalam melukis dan membuat cat akrilik yang berkualitas baik dan ramah lingkungan. Sementara Rini pun mengandalkan kemampuannya dalam bidang pemasaran serta jaringan yang luas. “Saya yang bagian ‘cuap-cuap’,” kata Rini.
Pada masa-masa sulit ini, Iskandar dan Rini mendapat bantuan dari Yayasan Dharma Bhakti Astra. Ketua Pengurus YDBA pada saat itu, Krisnymurti sudah lama mengenal Rini sehingga percaya kalau pasangan suami istri tersebut bisa mengelola dana Rp10 juta untuk mengembangkan usaha pelatihan melukis kaus. “Pinjaman itu tidak memiliki bunga, hanya dengan jaminan sebuah lukisan,” kata Rini.
Iskandar dan Rini bersusah payah menghidupkan kembali pelatihan kaus lukis. Setiap Sabtu dan Minggu, mereka mengadakan pelatihan melukis di atas kaus di Mall Bintaro Plaza. Kegiatan akhir pekan itu begitu membekas di kepala Rini. Dia teringat bagaimana beratnya menempuh perjalanan dari rumah yang bertempat di Jalan Slamet Riyadi, Jakarta Timur sampai Bintaro, Tangerang Selatan dengan menggunakan motor lama produksi tahun 1982.
Saat itu, mereka tidak hanya membawa diri. Sepanjang perjalanan, Rini menggendong 10 standar lukis di bahu kanan dan kiri. Adapun Iskandar harus berhati-hati menjaga keseimbangan motor sambil membonceng istri dan membawa materi lukis berupa papan dan kaus. Rini juga masih mengenang masa-masa ketika motor yang dikendarai Iskandar tegelincir di tengah rel kereta saat hujan. “Semua bahan dan materi yang kami bawa basah semua,” ujarnya.
Tapi, Iskandar tak pernah berpikir untuk menyerah. “Saya bekerja dengan jiwa. Kalau kondisi pekerjaan sedang tidak bagus, artinya belum berkembang. Tapi, bukan berarti tidak bisa berkembang,” kata dia. Sementara Rini pun mendukung suaminya. “Saya percaya dengan suami saya. Pekerjaan suami saya adalah melukis. Dia menyukai pekerjaannya. Dia jebolan ASRI. Dia bisa membuat cat,” kata Rini yang mengambil alih tugas pemasaran POT dan mempromosikan karya suaminya.
Keadaan mulai pun akhirnya berubah. Mereka mulai bisa mengadakan pelatihan lukis kaus di Plaza Semanggi, Pondok Indah Mall, dan Mall Casablanca. Selain itu, Rini berusaha untuk ikut kegiatan Bobo Fair. Dia meminta waktu kepada panitia acara untuk menjelaskan tentang POT. Rini sadar betul jika kesempatan mendapat stand sangat tipis. Sebab, dia baru menghubungi panitia pada lima hari sebelum acara. Tapi Rini tidak peduli.
Akhirnya panitia memberikan ruang kecil seluas 3x6 meter di dekat pintu masuk acara. Rini bersemangat. Dia menulis ajakan “melukis gratis” di depan stand-nya. Syaratnya peserta harus membawa kaus sendiri. Sementara pihak POT menyediakan cat dan berjanji mengajarkan cara melukis. Pesertanya kegiatan melukis membludak sampai menutupi pintu masuk. Akhirnya, POT selalu menjadi bagian dari Bobo Fair.
Setelah Bobo Fair itu, jaringan Rini semakin luas. Dia berkenalan dengan penyelenggara acara lain. Mereka pun sering mengadakan pelatihan di berbagai acara gathering atau ulang tahun perusahaan.
Kini, POT sudah terkenal sebagai penyedia pelatihan melukis di atas kaus. Ciri khas dari POT adalah cat akrilik yang digunakan untuk melukis dibuat sendiri oleh Iskandar. Cat yang sudah dipatenkan ini dijamin tidak beracun, ramah lingkungan, tidak rontok, dan tidak luntur. POT juga menerima pesanan kaos lukis yang ditawarkan dengan harga Rp150-750 ribu per buah. Selain itu, konsumen juga bisa memesan dekorasi, backdrop, hingga patung sederhana. Kini, saat peak season di musim liburan, pendapatan kotor yang dihasilkan dari POT bisa mencapai Rp50 juta sebulan. Sekitar 50 persen pendapatan datang dari hasil pelatihan melukis kaus.
Iskandar dan Rini menganggap usaha POT telah mencapai kesuksesan. Iskandar sudah punya studio lukis yang cukup besar di sebagian area rumahnya yang seluas 3.000 meter persegi. “Sosialisasi seni lukis yang kami lakukan juga sudah bisa direspon dengan baik,” kata Iskandar. Namun, sukses pada titik ini tidak membuat mereka berhenti. Kini, Iskandar sedang membangun studio tambahan di halaman rumahnya. Studio itu diharapkan bisa menampung 150 orang dan menjadi tempat penyelenggaraan POT dan aktivitas seni lainnya. “Pak Iskandar mau rumah ini seperti kampung seni,” kata Rini.

Artikel selanjutnya