Kisah UKM Hebat

Julius Hadiprawira: Konsisten Berkreasi Mengibarkan Nama Sumba Art di Kancah Dunia

Share : 18 September 2017
Sebagai penerus dari sebuah usaha milik keluarga, Julius Hadiprawira termasuk seorang pemberani dan tangguh. Sejak tahun 1990 hingga sekarang, tak pernah sekali pun ia terpikir untuk mundur malah ia selalu konsisten untuk terus maju menggulirkan nama Sumba Art agar tetap bertahan dalam kancah bisnis produk tradisi di Indonesia; dan tentunya mancanegara.
Apa alasan beliau menekuni bisnis ini? “Saya kebetulan memang mewarisi usaha dari orangtua. Sekarang, keduanya sudah tidak ada. Namun saya pikir sayang kalau usaha yang sudah dirintis sejak dulu ini tidak diteruskan. Perajin juga, ‘kan, sudah banyak,” ujarnya.
Ya, bagi para penyuka kain ikat Sumba yang merupakan kain tradisional khas asal Nusa Tenggara Timur itu, nama Sumba Art tentu bukan sesuatu yang asing terdengar. Brand ini sudah ada di Jakarta sejak tahun 1971, didirikan oleh orangtua Julius yang berasal dari Sumba, Nusa Tenggara Timur.
Sesuai namanya kita tentu membayangkan produk yang ada di Sumba Art menampilkan sederetan produk kain, anyam, serta kerajinan tangan lainnya yang identik dengan kebudayaan masyarakat pulau di Timur Indonesia tersebut. Tak salah, tetapi juga tak sepenuhnya begitu.
Sumba Art yang pada awalnya memulai bisnis dengan memasarkan kain tenun, saat ini tak melulu hanya menawarkan kain mentah sebagai produk utamanya. Seiring perkembangan zaman dan kebutuhan para pelanggan yang datang dari dalam dan luar negeri, Sumba Art sudah mulai menghasilkan busana ikat dan produk berbeda yang terbuat dari kain jenis lain, seperti batik.
Apa yang membedakan kreasi batik buatan Sumba Art dengan produk lain yang membanjiri pasar tradisi sebelumnya? Jujur, sebagian dari kita mungkin sepintas punya pemikiran seperti itu. Menariknya produk buatan Sumba Art ada pada kreativitas yang tercantum di kainnya. Tak hanya merupa produk berbahan baku kain batik, seperti tas, produk yang Sumba Art hasilkan juga sarat akan nilai seni karena memang setiap barang dibuat dengan tangan dan memiliki tingkat kerumitan yang tinggi, terutama dalam hal desain dan hiasan.
Pada beberapa produk, Julius dan tim misalnya dengan cekatan memadukan aplikasi sulam dan payet bersama dengan kulit di atas tas batik—menciptakan karya yang halus dan cantik. “Semua material yang kami gunakan berasal dari dalam negeri. Lokal. Hanya memang untuk desain, sengaja kami buat yang rumit supaya tidak mudah ditiru oleh orang,” tukasnya.

Julius dalam salah satu pameran.

Masalah tiru-meniru desain ini memang bukan isu yang baru dalam dunia bisnis di bidang apa pun juga. Namun untuk urusan yang satu itu Julius punya solusinya. “Ya itu, sebisa mungkin kami membuat produk dengan tingkat kerumitan yang tinggi, bukan hanya dicetak,” urainya.
“Semua kalau bisa juga handmade. Karena kalau pakai mesin, produk kita ini tak bisa bersaing dengan produk dari luar yang harganya murah, seperti produk-produk dari Thailand dan Myanmar,” lanjutnya. Ya, negara-negara yang juga mempunyai tradisi tenun itu memang pada umumnya menjajakan produk tenun buatan mereka dalam skala massal dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan dengan produk tenun produksi Indonesia.
Nah, di samping menerapkan desain yang rumit, Sumba Art tak lupa pula melakukan inovasi, misalnya dengan menerapkan diversifikasi produk. Kalau dulu, tenun yang Sumba Art tawarkan hanya berupa kain mentah, sejak tahun 2000, mereka juga mulai mengolah kain tersebut menjadi produk siap pakai, seperti baju. Di Jepang, produk tersebut menjadi salah satu barang yang paling digemari.
Terbukti, beberapa kali sudah produk Sumba Art diajak oleh konsulat Indonesia dan ITPC (Indonesia Trade Promotion Center) untuk berpameran di department store besar di berbagai kota di Jepang, yaitu Mitsukoshi, Isetan, Maruzen, Suzuran, Hankyu, dan Takashimaya—bersebelahan dengan brand-brand besar dunia, seperti Louis Vuitton, Gucci, dan Hermes.
“Pengalaman saya mengekspor ke Jepang, itu cukup sulit. Mereka itu kalau ada benang satu saja yang keluar, tidak bisa. Harus rapi. Makanya kami ke sana harus detail sekali. Mereka, sih, mengerti kalau buatan tangan itu harganya lebih mahal. Di samping Jepang, pesanan juga datang dari Asia, seperti Thailand.”
Sampai saat ini, Sumba Art sudah pernah berpameran hingga ke Singapura, Thailand, Malaysia, Eropa, dan Kanada.
Soal desain produk, Sumba Art pada dasarnya membuat semuanya sendiri. “Dulu pernah bekerja sama dengan siswa ESMOD. Jadi, mereka yang buat desainnya, kami yang mengerjakan. Namun, sekarang sudah tidak. Kami mendesain semuanya sendiri. Kadang, dengan masukan dari desainer dan pelaku usaha craft dari Jepang. Kami juga bekerja sama dengan UKM lain, misalnya untuk mengerjakan penjahitan, seperti untuk bikin tas,” jelasnya.
Untuk inspirasi, Julius biasanya mendapatkannya dari mana-mana. “Kadang kalau sedang jalan-jalan, ide biasanya datang. Apalagi, di Jepang. Di Jepang kayaknya model tas, tuh, paling bagus-bagus ya. Ibu-ibu di sana kalau naik kereta, paling nggak bisa bawa tas sampai tiga macam. Ada yang buat dompet, buat kunci. Macam-macam,” kenangnya.
Lalu, seperti apa pengaruh era digital dan teknologi sekarang terhadap perkembangan produk Sumba Art? “Banyak, ya. Jaringan menjadi lebih luas tapi kemungkinan untuk ditiru orang juga lebih besar. Ya, tidak apa. Tantangannya, ya, di situ. Era digital mau tidak mau harus kita ikuti, tidak bisa lepas. Kalau tidak ikut, kita akan tereliminasi. Dari situ, kami juga belajar mengembangkan kreasi-kreasi baru. Kalau soal takut ditiru dan bikin nggak mau masuk ke dunia digital, nanti kita jadi tidak bisa berkembang. Masa kreasi disimpen sendiri?” ujarnya sambil tertawa.
Setelah 20 tahun, tentu banyak kisah suka duka dalam perjalanan usaha ini. Selain yang berhubungan dengan urusan pemasaran—menurutnya, Sumba Art pernah mengalami masa stagnan, tetapi mulai naik lagi pada tahun 2007—, kendala juga berhubungan dengan SDM yang berkerja untuknya. “Bisnis ini kan berhubungan dengan banyak perajin. Kalau yang berhubungan dengan perajin lokal itu biasanya masalah teknis. Masalah pewarnaan misalnya. Kadang-kadang kami maunya begini, ternyata hasilnya ‘lari’. Kalau lepas kontrol, bisa-bisa bongkar semua. Karaternya mereka memang sebagian besar begitu, seenaknya. Bahannya sudah saya kasih, semestinya sudah dikerjakan, ternyata belum. Atau sudah harus diambil, barangnya tidak ada. Kalau sudah begitu, solusinya paling, ya, diingatkan terus saja. Karena memang tanggung jawab besarnya ada di kita.”
Ya, kesabaran sepertinya memang jadi kunci yang harus pengusaha miliki untuk terus menjaga stabilitas produksi. Akan tetapi, kunci lain yang juga penting tentunya adalah kesiapan usaha. Untuk urusan yang satu ini, Julius merasa terbantu juga dengan pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). “Saya beberapa kali ikut seminar. Ada yang berhubungan dengan pengembangan untuk ekspor, seminar perdagangan dengan Ibu Sri Mulyani, masalah packaging, pengembangan medsos, dan banyak lagi. Semua menghadirkan expert dari bidang-bidang yang diangkat.”
Sejauh ini, hasil yang ia dapat dari seminar itu beberapa sudah diterapkan. Namun memang untuk sistem pemasaran, Sumba Art masih dominan menerapkan cara konvensional, dari mulai menjajakan via teman ke teman, pameran, hingga membuka galeri di Kemang, Jakarta.
Dari apa yang sudah ia capai hingga hari ini, pria dengan senyum ramah ini mengaku masih belum puas. Julius berharap, brand kembangannya ini bisa menembus pasar global dengan lebih optimal. “Seperti brand Jimmy Choo dari Malaysia itu, kan, siapa yang tidak kenal? Kami juga maunya bisa seperti itu. Kalau produk dari luar bisa masuk dengan enak ke sini kenapa kita tidak bisa ke luar? Kami tidak mau hanya tergantung sama pasar domestik.”
“Lagipula, kalau kami memperluas pasar otomatis, ‘kan, pasti perajin juga bertambah, pendapatan juga bisa bertambah. Saat ini, perajin kami itu ada sekitar 40 orang, tersebar di Jakarta dan di Sumba,” tukasnya.
Untuk itu, Sumba Art melakukan banyak hal, mulai dari kolaborasi dengan pihak luar, termasuk pemerintah, hingga mungkin mengusahakan endorsement dengan selebriti dari luar negeri. “Sebab kalau kita sendiri, masih melakukan sendiri, nggak kolaborasi, akan cukup sulit kayaknya”.
Semoga apa yang brand ini impikan bisa menjadi kenyataan karena itu berarti juga kebanggan bagi Indonesia.

Artikel selanjutnya