Kisah UKM Hebat

Junaidi : Bertani, Berbagi, Kembangkan Potensi

Share : 26 February 2019

Sekitar kurang lebih satu atau dua tahun terakhir, Junaidi menekuni pertanian cabai hiyung. Maklum, ia baru mendapat asupan ilmu setelah mengikuti bimbingan budidaya cabai merah di Kota Bogor, Jawa Barat, pada Maret 2017. Setelah Bogor, Junaidi bergeser ke Bandung untuk belajar mengolah produk hortikultura pasca-panen. Sejak saat itu, semangatnya dalam mengembangkan pertanian cabai hiyung semakin menggebu-gebu.

Berstatus sebagai Ketua Kelompok Tani Karya Baru, Lembaga Pengembangan Bisnis Banua Prima Persada (LPB Baprida) Tapin mengutus Junaidi dan beberapa petani lainnya belajar aneka cara budidaya dan pengolahan pasca-panen. Lima hari belajar ke tanah Pasundan, Junaidi bergegas mengaplikasikan ilmu itu setibanya di kampung halaman, Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

“Setelah bimbingan teknologi, hasilnya tanaman cabai lebih lebat, meski ditanam dengan jarak 60-70 sentimeter di ladang. Artinya, produktivitas cabainya lebih banyak,” kata Junaidi.

Suami dari Kapsah ini menekuni budidaya cabai hiyung sejak 2010, setelah kepincut melihat harga cabai hiyung dan cerita sukses petani cabai di desa itu. Semangat Junaidi kian menebal karena Desa Hiyung sudah kesohor dikenal penghasil cabai yang diklaim punya rasa pedas 17 kali lipat ketimbang cabai lain.

Di sela rutinitas sebagai Sekretaris Desa Hiyung, ia mula-mula menanam cabai hiyung di lahan seluas 0,5 hektare bermodal uang sebesar dua juta rupiah. Puas meraup keuntungan budidaya cabai, Junaidi menambah lahan tanam seluas 1 hektar. Ia tekun berbudidaya cabai karena petani sejatinya tak pernah merugi besar di tengah fluktuasi harga.


Suasana di rumah bibit cabai milik Junaidi

“Cabai enggak ada ruginya. Kalau pun harga anjlok, pengaruhnya untung jadi sedikit. Tapi enggak rugi, lebih banyak dapat harga bagus,” kata Junaidi.

Empat tahun pertama budidaya cabai, ia melego semua hasil pertaniannya lewat tengkulak. Maklum, Junaidi dan anggota kelompok tani cuma menggantungkan penjualan hasil bumi ke tengkulak, tanpa ada akses langsung ke pembeli, apalagi berkreasi mengolah produk turunan cabai hiyung.

Bantuan bukan tak pernah datang. Pemerintah Kabupaten Tapin membantu pengadaan bibit dan alat pertanian. Toh, kata Junaidi, petani cabai tetap bergantung tengkulak ketika menginjak musim panen. Alhasil, petani seperti Junaidi tak punya alternatif pemasaran melego cabai demi meraup untung lebih besar.

Sadar ingin lepas dari jerat monopoli tengkulak, Junaidi kepincut program pemberdayaan dan yang digagas oleh LPB Baprida ketika menyambangi Desa Hiyung pada 2014. Junaidi makin antusias setelah LPB Baprida berkomitmen mendampingi petani mulai hulu sampai hilir. Lewat program sektor unggulan di LPB, Junaidi dan kelompoknya mendapatkan ilmu dalam mencari alternatif pemasaran, mengolah hasil pasca-panen, plus budidaya cabai yang baik.

Dalam hal ini, Junaidi tidak ingin berkembang dan meraup untung sendirian. Sebagai Sekretaris Desa dan juga ketua kelompok tani, Junaidi juga memiliki keinginan agar warga di desanya bisa maju karena cabai hiyung ini. Keluhan beberapa petani di desanya tentang harga cabai yang tak jarang merugikan petani membuatkan semakin berkeinginan untuk membawa desanya menjadi lebih sejahtera.

Dengan binaan LPB Baprida, Junaidi memiliki banyak alternatif melego hasil buminya. Misalnya saja ketika harga cabai anjlok, ia membuat sambal kemasan atau dikeringkan untuk bahan baku abon cabai. "Abon cabai hiyung bisa tahan enam bulan tanpa pengawet.” Alternatif semacam ini yang membuat Junaidi dan petani lainnya tak lagi menggantungkan nasib ke tengkulak.

Junaidi pun melibatkan 25 anggota kelompok taninya. Semua produksi pasca-panen itu digarap oleh anggota kelompok tani. Di Desa Hiyung, mereka memiliki rumah yang memajang aneka produk turunan cabai hiyung. Satu kilogram cabai hiyung kering bisa dibuat 35 botol abon cabai dengan isi 35 gram per botol. Sementara harga jualnya dibanderol 20 ribu rupiah per botol abon.

Agar penetrasi pasar produk pasca-panen lebih cepat, Junaidi menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Tapin. Ia meminta tamu-tamu pemerintah daerah agar diberikan buah tangan abon cabai hiyung. “Tinggal telepon atau bisa ambil ke Desa Hiyung. Respons masyarakat sangat baik, kami enggak khawatir lagi kalau sewaktu-waktu harga cabai turun. Sejak ada produk pasca-panen, harga cabai hiyung jarang di bawah Rp30 ribu,” ujar Junaidi. Beres mengolah abon dan sambal, ia bercita-cita mengolah keripik singkong cabai hiyung.

Selain itu, Junaidi berusaha untuk membuka akses pemasaran cabai ke pasar modern. Sejak 2015, ia memperoleh jalan untuk melego cabai hiyung ke Lotte Mart. Dua tahun berikutnya, Junaidi memperluas pemasaran cabai ke Giant. Ia dan kelompok taninya rata-rata memasok 20-30 kilogram cabai hiyung dalam sekali kirim. Adapun dalam sebulan, Junaidi biasanya melakukan dua kali pengiriman.

Ke depannya, Junaidi berencana mengembangkan benih cabai rawit setelah mengantongi izin peredaran. Di Desa Hiyung, prospek bisnis cabai hiyung agaknya terus mengilap. Walau banyak warga yang menekuni pertanian cabai hiyung, Junaidi tak merasa tersaingi. Bapak dari Ahmad Rizalu Arif dan Ahmad Zulfitri , itu justru antusias perekonomian desa makin tumbuh berbasis potensi lokal.

“Dari 423 kepala keluarga, kini 370 kepala keluarga bertani cabai hiyung. Total lahan seluas 112 hektar. Rata-rata memang perekonomian warga desa meningkat, desa kami tambah sejahtera dan mandiri,” cerita Junaidi yang kini juga aktif membagikan ilmunya kepada berbagai pihak, mulai dari sesame petani hingga para mahasiswa yang tertarik dengan keberhasilan Desa Hiyung mengembangkan budidaya cabai Hiyung.

Warga yang semula mayoritas bekerja ke luar negeri sebagai buruh, kini banyak yang menggarap budidaya cabai hiyung. Selain itu, kata Junaidi, warga sudah banyak yang berangkat umroh, naik haji, dan mampu merehab rumah lebih layak.

"Kini, kurang lebih 30 dari 423 KK yang masih tergolong miskin. Selain itu, kalau pada tahun 2000, sekitar 40 persen penduduk Desa Hiyung menjadi buruh di luar negeri, sekarang cuma sisa 10 orang saja yang jadi TKI," ujar Junaidi.

Artikel selanjutnya