Administrator 105 post
Kolom

KEMAMPUAN SEORANG PEMIMPIN DALAM BERBAGI TUGAS: TONNY SUMARTONO, ADVISOR YDBA

Share : 14 April 2020

Manajemen berbagi merupakan sebuah keharusan bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin sebaiknya dapat membagi kekuasaannya kepada para anak buahnya agar mereka bisa memiliki tanggung jawab dan sesuai dengan kebutuhan organisasi / perusahaan. Dasar kepercayaan menjadi kuncinya. Jika kepercayaan yang diberikan itu dimanfaatkan ke hal-hal negatif, baru pemimpin akan menindak secara tegas, misalnya dengan memindahkan ke bagian lain hingga meminta orang tersebut untuk mengundurkan diri.

Pemimpin sudah sebaiknya memberikan tanggung jawab kepada mereka. Bila ada kesulitan yang melebihi kuasa mereka, pemimpin siap untuk turun tangan dan mem-back up. Dalam pembagian kekuasaan tersebut, pemimpin itu harus cerdik supaya bisa efektif dan mengantisipasi kegagalan yang akan terjadi. Sudah bukan zamannya lagi hanya seorang pemimpin yang ‘unjuk gigi’ atau ‘One Man Show’, karena perubahan di zaman sekarang sudah sangat cepat dan membutuhkan bantuan sumber daya manusia. Manajemen berbagi pada organisasi / perusahaan menunjukkan keefektifan sebuah organisasi, sebab hakikat sebuah organisasi adalah berbagi tugas.

Jika pemimpin terlampau condong kepada ‘interest’-nya, kadang-kadang yang dikorbankan adalah organisasinya. Maka dari itu, jika ingin menjadi pemimpin idealnya harus menanggalkan kepentingan pribadi. Seorang pemimpin yang bisa menanggalkan conflict of interest demi visi misi perusahaan biasanya akan lebih cepat tumbuh. Namun jika pemimpin terkontaminasi dengan conflict of interest-nya, bisa kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok, biasanya organisasinya akan menjadi korban. Kalau jadi korban, sistem organisasi atau perusahaan pun tidak bisa berjalan.

Di samping itu, pemimpin yang baik harus bisa mengkombinasikan antara pengetahuan dasar dan jam terbang. Pengetahuan dasar bisa didapat baik dari sumber-sumber literatur hingga dari obrolan-obrolan santai dengan kerabat. Sedangkan jam terbang itu 75 persennya adalah terkait sisi psikologis, karena pemimpin harus bisa membaca karakter dan potensi kemampuan anak-anak buahnya. Setelah mengetahui karakter dan melihat Curriculum Vitae-nya, baru nanti pemimpin akan membagi kewenangan berdasarkan kecocokan sebaiknya di bagian mana dengan tugas kerja seperti apa.

Pemimpin harus mampu mengidentifikasi masalah yang kemudian bisa di-share ke anak buahnya lalu disepakati cara mengatasi masalah tersebut. Di sinilah Plan, Do, Check, Action (PDCA) mulai dijalankan. Pemimpin harus memiliki insting yang kuat sehingga mampu menganalisis bagian mana yang tidak beres di organisasi / perusahaannya. Insting kuat tersebut bukan datang begitu saja tetapi harus sering dilatih melalui pengamatan dan ‘merekam’ kejadian-kejadian sebagai bahan pembelajaran.

Artikel selanjutnya