Kolom

Kemuliaan Berbisnis

Share : 17 May 2017

Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur,  Tahun 1998. Suara mesin dan peralatan industri komponen di pabrik UKM tidak lagi terdengar hingar bingar seperti biasanya. Kini kawasan itu hening sepi.  Aktivitas para pekerja juga tidak terlihat sibuk, hanya beberapa orang saja yang masih bekerja. Itupun tinggal di satu-dua perusahaan saja.  Tumpukan bahan baku yang biasanya menggunung kini tinggal beberapa lembar saja. Seperti  tidak ada lagi kehidupan! Beginilah suasana kawasan industri kala terkena dampak krisis ekonomi yang melanda Tanah Air kita tercinta.

Tergelitik pada satu perusahaan yang masih memperkerjakan cukup banyak karyawan, saya pun bergerak ke perusahaan tersebut. Satu pertanyaan saya kepada pemilik perusahaan itu “Saya lihat karyawan Bapak masih banyak dibandingkan perusahaan tetangga, padahal kita semua tahu order perusahaan Bapak juga merosot tajam seperti lainnya. Bapak tidak mengurangi karyawan? Darimana penghasilan perusahaan Bapak untuk membayar gaji mereka?”

Pemilik perusahaan itu tersenyum mendengar pertanyaan saya. Tidak terlihat gambaran suram di wajahnya meskipun saya tahu ada beban berat di pundaknya. Ia pun menjawab, “Ya, kalau kita hanya menghitung untung-rugi  semata mungkin saya sudah melakukan hal yang sama dengan perusahaan lainnya. Toh kalau saya lakukan itu tidak salah karena perusahaan sudah rugi dan saya harus menyelamatkan perusahaan.  Tetapi saya tidak lakukan karena bisnis bagi saya bukan semata hitungan untung-rugi. Bisnis bagi lebih dari itu, yaitu bagaimana saya bisa memuliakan orang lain, seperti karyawan perusahaan saya. Dua tahun terakhir perusahaan saya memang sedang merugi cukup besar, tetapi Tuhan telah memberikan keuntungan 13 tahun.  Jadi sejak 15 tahun berdiri lebih banyak keuntungan dibandingkan kerugian yang Tuhan berikan kepada saya. Dan, itu semua juga karena kontribusi karyawan saya”.

Kemudian pemilik perusahaan itu melanjutkan, “Karena peran mereka perusahaan bisa mendapatkan keuntungan,  dari bagian keuntungan yang menjadi  hak saya, saya bisa menambah  aset  pribadi seperti rumah, kendaraan, dan lahan. Bahkan, saya bisa jalan-jalan ke luar negeri. Jadi, ketika perusahaan saya sedang mengalami kerugian yang sangat besar bukan dengan mem-PHK orang, saya lebih mendahulukan menjual aset pribadi saya.  Selain itu, menghentikan agenda jalan-jalan saya ke luar negeri. Karena, saya punya keyakinan karena mereka dititipkan sang Khalik kepada saya jadi saya tidak mau sedikitkan mengingkari amanah yang telah diberikan Tuhan. Secara fisik kekayaan saya memang berkurang, namun secara non-fisik sebenarnya bertambah”. 

 

Mendengar uraian pemilik perusahaan saya tidak bisa berkata-kata,  hanya bergumam “luar biasa!”.

Masih adakah orang seperti pemilik perusahaan industri di atas? Ternyata dalam situasi krisis ekonomi saat itu, masih ada lagi. Kali ini rekan pengusaha bengkel roda-4. Apa yang dilakukannya menurut saya juga sungguh luar biasa. Ketika rekan sesama pengusaha banyak yang mengurangi karyawan, pemilik bengkel ini malah menambah karyawan. Banyak juga karyawan yang di PHK dari bengkel lain yang ditampung olehnya. Tertarik dengan apa yang tidak biasa menurut saya, saya pun menggali alasan dia menambah karyawan padahal bisnisnya sedang menurun.

Inilah jawabannya, “Saya ini lahir dari keluarga miskin, jadi bisa merasakan bagaimana sulitnya hidup tanpa penghasilan. Bagi orang miskin yang paling penting adalah bagaimana mempertahankan hidup dan itu artinya bisa makan aias tidak kelaparan. Jadi saya tidak bisa membayangkan bagaimana bila seseorang yang sehari-harinya punya penghasilan tiba-tiba hilang penghasilannya, apalagi bila mereka punya anak-istri. Nah, berkaca dari hal itu, saya merasa perlu membantu mereka untuk tetap mempunyai penghasilan, meskipun saya harus menjual aset pribadi.  Dan, menurut agama yang saya anut ada kepercayaan bila kita menampung orang-orang yang sedang mengalami kesusahan, kemudian mereka berdoa untuk kebaikan kita,  maka doanya akan dikabulkan.  Selain alasan itu, alasan lainnya adalah untuk antisipasi ke depan bila kondisi ekonomi kembali membaik dan bengkel saya kebanjiran order,  saya sudah siap menangkapnya. Tidak perlu repot-repot lagi merekrut karyawan baru. Saya begitu percaya apa yang kita berikan kepada orang lain nantinya akan kembali lagi kepada kita, bahkan dalam jumlah yang lebih besar.”

Kemudian lanjutnya,”Sebagai contoh, saya sekarang punya dua rumah yang sebelumnya tidak saya bayangkan.  Ketika dari usaha bengkel  saya sudah cukup untuk membeli rumah buat pribadi, saya tidak gunakan untuk rumah saya, tetapi saya belikan dulu rumah yang bisa menampung karyawan saya. Padahal saya belum punya rumah alias ngontrak. Tapi alhamdulillah setelah semua karyawan saya bisa tinggal di rumah yang saya buatkan, saya pun akhirnya bisa punya  2 rumah. Jadi tidak ada dalam kamus saya untuk memberhentikan karyawan di saat sulit sekalipun.”

Dari pengalaman dua pengusaha di atas, apa yang bisa kita simpulkan? Kesimpulannya adalah : memuliakan orang lain adalah kunci untuk menjalankan sebuah bisnis. Mudah-mudahan kita semua bisa mengambil pelajaran dari kedua pengusaha tadi.

Artikel selanjutnya