Pegiat UKM Hebat

Lintas Generasi, Suyanto Dampingi IKM Selama 22 Tahun

Share : 15 September 2017
Suyanto sibuk menerima tamu yang hilir mudik di ruang kerjanya, di Kantor Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB), Kabupaten Tegal, pada Kamis, 18 Mei 2017. Saat itu, tamu yang datang rata-rata berasal dari kalangan industri kecil menengah (IKM). “Ya, pekerjaan saya memang seperti ini, mas. Melayani para pengusaha IKM,” kata Koordinator LPB Tegal itu.
Sejak 2012, Suyanto ditunjuk oleh Yayasan Dharma Bhakti (YDBA) dan Dinas Perindustrian Kabupaten Tegal untuk membina seluruh IKM yang bergerak di bidang manufaktur, di daerah yang dikenal dengan sebutan Jepangnya Indonesia itu. Kepada Suyanto, para pengusaha IKM kerap curhat tentang kondisi usaha mereka.
Tak jarang juga, Suyanto berkeliling kampung dan antar kecamatan untuk menyambangi sentra-sentra industri kecil logam. Di sana, ia tidak hanya mendengarkan keluhan pengusaha, tapi juga membina mereka. Semua rutinitas itu, sudah ia lakoni sejak 1995. “Sejauh ini, saya membina dua generasi. Pertama generasi tahun 1990-an atau orde baru. Kedua, generasi 2000 ke atas atau reformasi,” ujar pria kelahiran 14 Juli 1973 itu.
Di mata pria asal Kota Semarang ini, kedua generasi itu memiliki karakter yang sangat jauh berbeda. Misalnya dalam hal inovasi, generasi 1990-an jarang ada yang berani berkreasi membuat produk. Jika sudah diwarisi oleh orang tua membuat peralatan pertanian, mereka cenderung akan terus membuat alat pertanian. "Berbeda dengan generasi tahun 2000-an. Mereka lebih banyak berinovasi dan berani mengambil langkah-langkah strategis," kata Suyanto. “Misalnya produksinya jadi berkembang bukan hanya produk alat pertanian tetapi juga komponen sepeda motor dan peralatan rumah tangga.”
Bagi Suyanto, membina pengusaha IKM generasi terakhir inilah yang lebih mudah dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Dia lebih enjoy mendampingi pengusaha yang masih muda-muda, lantaran pemikirannya lebih maju. “Bisa diajak diskusi, pemikirannya lebih kritis,” ungkap dia.
Kendati demikian, menurut Suyanto, kesulitan yang paling sering dialami selama mendampingi dan membina IKM adalah mengubah cara berpikir. Tentang kebersihan bengkel misalnya, dia sering menemukan bengkel milik pelaku IKM terlihat berantakan, seperti kain pembersih yang tercecer, penataan alat yang tidak sesuai dengan tempatnya. "Jadi seperti manajemen tukang bakso,"kata Suyanto. Dia pun tidak bosan-bosannya mengingatkan kepada para pelaku IKM untuk menerapkan prinsip kerja yang resik dan rapi.
“Saya bilang ke mereka, kalau ada tamu datang ke rumah kita, pasti yang dilihat itu kan bersihnya, kerapiannya. Kalau rumah kita kotor, bau, mana mungkin mereka akan betah," kata Suyanto. "Begitu juga IKM, workshop harus bersih dan rapi, serta administrasi perusahaan. Itu salah satu contoh saja, di samping harus menjaga kualitas produk."
Ketika berkeliling, ia juga melakukan pemetaan terhadap IKM-IKM logam di wilayah Kabupaten Tegal. Tujuannya agar akar pembinaan lebih maksimal dan tepat sasaran. Dari hasil pemetaan itu, Suyanto membagi empat kelompok IKM. Pertama, Tegal Manufactur Part, yaitu kelompok industri kecil yang bergerak di bidang stamping yaitu pengerjaan komponen sepeda motor menggunakan bahan plat dengan mesin press. Biasanya mereka membuat komponen sepeda motor.
Kedua, adalah Kelompok Industri Kecil yang bergerak di bidang pengecoran non ferro dan sudah menjadi pemasok industri galangan kapal. Kelompok industri ini tergabung dalam IKM Koperasi Mandiri Sejahtera. Ketiga, yaitu kelompok industri yang bergerak di bidang pengecoran non ferro dan peralatan rumah tangga serta pemadam kebakaran. Industri ini tergabung dalam Koperasi Rakitan Rakyat Tegal.
Terakhir adalah industri logam yang memproduksi alat berat. Kelompok ini terdiri dari industri yang bergerak di bidang pengerjaan plate untuk industri komponen alat berat. “Kami sudah menyiapkan perencanaan program sampai 2020 nanti empat kelompok IKM ini mau di arahkan kemana,” ujar dia.
Suyanto menjelaskan, untuk IKM yang bergerak di bidang stamping, ditargetkan semua produknya bersertifikat ISO, SNI, dan bermerek. Dengan begitu, produk asli Tegal bisa secara mandiri menyuplai produk ke industri otomotif nasional. “Selama ini kami hanya suplai produk saja, tidak punya merek sendiri,” kata Suyanto.
Begitu juga industri kecil yang bergerak di bidang pembuatan galangan kapal. Produk-produk mereka, kata Suyanto, nantinya harus bersertifikat BKI dan ISO 9001. Kelompok industri ini juga harus bisa mendukung industri kapal nasional. “Jadi sebelum masuk ke situ, kami akan memberi pelatihan bagaimana teknik pengecoran yang ramah lingkungan. Pelatihan bagaimana pengecatan yang standar industri galangan,” ujar dia.
Suyanto mengatakan, industri kecil yang memproduksi peralatan rumah tangga juga ditargetkan tersertifikasi ISO 9001. Selain itu, produk IKM juga memiliki merek sendiri sehingga bisa menjadi IKM yang mandiri dan bisa bersaing dengan produk nasional. Sementara untuk industri kecil yang memproduksi alat berat saat ini sudah berjalan, mereka sudah memiliki pasar sendiri ke perusahaan alat berat ternama seperti Komatsu, United Tractor, PAMA, dan sebagainya. “Meskipun sudah punya pasar sendiri. Kami tetap akan mengembangkan industri ini seperti mengarahkan produknya ke perusahaan komponen kereta api seperti INKA Madiun,” jelas dia.
Lulusan Teknik Mesin Universitas Pancasakti (UPS) Tegal itu, berkomitmen memajukan industri logam di wilayah Tegal dan sekitarnya. Apalagi dengan semakin ketatnya produk dari luar negeri, produk lokal harus bisa bersaing agar tidak. “Caranya ya dengan terus berinovasi, produknya harus sesuai standar internasional,” kata dia.
Semangat Suyanto dalam memberikan pelatihan kepada UKM sejalan dengan misi Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang fokus pada pengembangan UKM di Tanah Air. Selain memberikan pelatihan, YDBA juga pendampingan serta memfasilitasi UKM untuk mengakses pasar dan pembiayaan.(*)

Artikel selanjutnya