Kisah UKM Hebat

Mbah Tik, Berbagi Untuk Tabungan Hari Nanti

Share : 08 October 2018
Pria kelahiran Sidoarjo, 20 November 1950 silam ini memulai petualangannya di Sangatta ketika merantau sebagai petani sayur pada tahun 1983. Seiring dengan perkembangan usahanya, ia kemudian mengembangkan usahanya menjadi peternak ayam potong pada tahun 1987. Berbagai jatuh bangun bahkan hingga kepailitan pun sempat dirasakannya. Namun, ia dapat bertahan dan kemudian mewariskan usahanya kepada anaknya. Itulah Jumadi, atau yang lebih akrab disapa Mbah Tik. Pria yang kini telah memiliki 14 orang cucu dari 7 anaknya ini tak pernah lelah untuk berkarya dan berusaha di tengah usianya yang terhitung senja.

Tak ingin berhenti berkarya, di usianya yang sudah menginjak 62 tahun, usia yang sudah masuk usia pensiun para karyawan, Mbak Tik mencoba menekuni usaha baru, yaitu budidaya lele. Ia memulainya dengan membesarkan 10 ribu benih ikan lele yang beliau beli dari temannya. Pada awalnya ia gagal, tetapi semangatnya tidak kunjung padam. Berkat kegigihannya tersebut, usahanya pun mulai menunjukkan hasil. Ia pun kemudian mengembangkan kolamnya dengan luas sekitar 1,5 hektar menjadi kolam-kolam lele, mulai dari fase pemijahan hingga pembesaran. Ia pun mempekerjakan satu orang karyawan untuk membantunya mengelola kolam tersebut.

Selain besar semangatnya, Mbah Tik juga memiliki rasa ingin tahu yang besar. Walaupun pengetahuannya tentang budidaya lele terbatas, ia mencoba untuk mencari tahu dari berbagai sumber yang ada. Mulai dari buku, makalah, dan artikel di internet dilahapnya untuk dapat meningkatkan ilmunya. Akhirnya, pada sekitar tahun 2015, keingintahuannya tersebut mengenalkannya kepada Lembaga Pengembangan Bisnis Pama Banua Etam (Pabanet) yang didirikan oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra dan PT Pamapersada Nusantara.
Setelah bergabung dengan LPB Pabanet, Mbah Tik pun turut mengikuti program sektor unggulan dari YDBA. Berbagai kegiatan diikutinya, mulai dari pelatihan (basic mentality, budidaya lele dan cacing sutra, pembukuan sederhana) hingga kegiatan studi banding ke Dejeefish di Sukabumi, Jawa Barat, untuk melihat langsung contoh pembudidayaan ikan yang baik. Semua itu dilakukannya dengan penuh semangat. “Sejak bergabung dengan LPB, saya makin banyak teman, makin banyak juga rezeki yang saya dapatkan” ujarnya.
Hebatnya, walaupun usianya sudah cukup senja, Mbah Tik masih sangat bersemangat untuk mempersatukan para pembudidaya lele di Sangatta agar dapat naik kelas dan meningkatkan taraf hidup mereka. “Besar harapan saya agar pada pembudidaya lele di Sangatta kompak bersatu, sehingga kita bisa halau produk dari luar, jadi kita penuhi kebutuhan disini dengan kemampuan sendiri. Kita pasti bisa.” ujarnya dengan semangat.

Kini, Mbah Tik masih terus bersemangat mengembangkan sektor unggulan perikanan di Sangatta. Ia tak pernah keberatan jika harus berbagi ilmunya kepada siapapun. Setiap konsumen yang membeli benih padanya diajarkannya cara membesarkan benih-benih tersebut. Selain itu, jika ada pembudidaya lain yang mengalami masalah, Mbah Tik tidak berat hati untuk langsung datang ke rumah pembudidaya tersebut untuk membantu. Semangat berbagi ini pun kini mulai ditiru oleh beberapa pembudidaya lain.

Itulah Mbah Tik, yang tidak menjadikan usia sebagai penghalang untuk berkontribusi dan menjadi panutan bagi sesama pembudidaya di Sangatta. Baginya, usaha bukan sekadar mencari uang semata, melainkan tabungan amal untuk di akhirat kelak.

Artikel selanjutnya