Administrator 60 post
Inspirasi Wirausaha

Mengenal Big Data, Sumber Informasi Digital Tak Terbatas bagi Dunia Usaha

Share : 14 August 2018
Berapa kali Anda membuka Google dan mengetikkan kata kunci pencarian setiap harinya? Berapa banyak Anda memposting status dan foto di Facebook, Instagram, atau Twitter? Atau, berapa sering Anda membaca berita daring atau membuka Youtube?
Dalam aktivitas kecil itu, kita tanpa sadar sebenarnya sedang membuat sekaligus mengakses data digital. Begitu juga dengan yang dilakukan lembaga pemerintah, perusahaan, dan organisasi yang memiliki layanan online bagi pelanggan atau masyarakat umum.
Mau tahu berapa volume data yang dihasilkan dari aktivitas digital itu? International Digital Corporation (IDC) mencatat pada tahun 2013, data digital mencapai 4,4 Zetabyte (Zb) atau 4,4 triliun Gigabyte (Gb), dan hanya kurang dari 3% yang sudah dimanfaatkan dan dianalisis. Organisasi riset teknologi digital itu juga memprediksi pada 2020 pertumbuhan data akan meningkat 10 kali lipat, atau menjadi 44 Zb.

Big Data
Secara umum, big data merupakan istilah untuk menggambarkan himpunan data dengan volume sangat besar dan kompleks, serta membutuhkan proses analisis untuk bisa menjadi informasi yang bisa dipahami. Konsep ini mulai terkenal sejak seorang analis dari perusahaan riset teknologi Gartner, Douglas Laney, pada 2001 menyebutkan definisi big data yang meliputi tiga hal:

    Volume yang mendeskripsikan ukuran dan jumlah data yang sangat besar dan terus bertambah hingga menyebabkan ledakan data,
    Velocity artinya data digital memiliki kecepatan yang luar biasa, terus bergerak, dan berubah dalam hitungan menit atau detik,
    Variety yang mendefinisikan beragam format, dari data numerik yang terstruktur hingga data acak yang berupa teks dokumen, gambar, dan audio-video.

Big data bisa berasal dari tiga sumber, yakni data streaming atau data yang masuk dalam sistem jaringan IT yang berasal dari perangkat yang terkoneksi dengan internet; data media sosial yang berupa interaksi sosial yang bisa menggambarkan perilaku konsumen; dan data terbuka, yakni data yang dipublikasikan dalam situs milik resmi lembaga pemerintah atau organisasi.
Lalu bagaimana data sebanyak itu disimpan? Infrastruktur tradisional seperti hardisk komputer dengan kapasitas terbatas tak akan mampu menyimpan big data.
Big data berada dalam komputasi awan (cloud), platform yang miliki ruang penyimpanan yang ekstra besar, dengan multi-server virtual yang memungkinkan akses mudah dan cepat. Cloud juga memudahkan pemrosesan data menggunakan tool semacam Hadoop.

Apa pentingnya bagi bisnis?
Big data menyimpan potensi kekayaan informasi beragam dan mendalam tentang segala hal yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan jitu dan cerdas dalam dunia bisnis. Dampaknya, perusahaan bisa meningkatkan efisiensi dan kecepatan, memotong biaya, menentukan tipe produk atau layanan baru, mendongkrak laba bisnis, dan menaikkan kepuasan konsumen.
Big data membantu perusahaan untuk mengetahui tren pasar, perilaku dan loyalitas konsumen, fitur produk atau layanan yang paling disukai, respon pasar terhadap kompetitor, peluang produk baru, dan bahkan bisa memprediksi gejala krisis yang belum muncul. Perusahaan teknologi raksasa, seperti Google, Dell, dan Amazon, menjadi besar karena memanfaatkan big data.
Salah satu sumber data potensial adalah media sosial, tempat beragam manusia berinteraksi dan membahas banyak hal. Facebook dan Twitter menyimpan statistik tentang perilaku konsumen, tren produk terkini, dan potensi pasar, yang berguna untuk merumuskan strategi marketing.
Media online dengan berita-berita clickbait menghitung pada jam dan menit berapa follower Twitter atau Facebook paling banyak membuat status, untuk kepentingan menaikkan berita dan memancing banyak klik. Produsen gawai mempelajari media sosial sebelum menentukan di negara mana mereka akan meluncurkan produk barunya agar gaungnya besar.

Big data untuk UMKM
Big data memang tak serta merta menunjukkan informasi gamblang tentang sebuah fenomena karena strukturnya yang acak dan tak jelas. Agar data memiliki makna, diperlukan seorang data scientist yang memiliki keahlian dalam data mining serta mengolah dan menganasis data. Hal ini disebut juga data analytics.
Pakar big data terkemuka dan pendiri International Institute of Analytics (IIA), Thomas Davenport, yang berbicara pada gelaran Big Data Week 2015 lalu di Jakarta memprediksi, Indonesia punya kesiapan dalam mengadopsi big data analytics meski dengan beberapa catatan, salah satunya adalah sumber daya manusia.
“Universitas perlu mengembangkan program pendidikan yang berkaitan denga big data, sehingga menghasilkan para ahli di bidang big data. Big data analytics sebenarnya lebih membutuhkan ahli matematika dan sains dibanding ahli IT,” kata Davenport dikutip Dailysocial.
Keterbatasan pengetahuan masih menjadi kendala bagi dunia bisnis Indonesia, terutama bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk mengadopsi big data analytics. Selain itu, teknologi ini juga dikenal berbiaya mahal.
“Banyak yang ragu untuk mengeksplorasi big data karena memerlukan investasi besar, baik hardware maupun software, masih banyak UMKM tradisional yang enggan menerima perubahan,” papar Daniel Ng, direktur senior Cloudera, perusahaan teknologi data analytics yang berbasis di California, AS, seperti dilansir Liputan6.
Sebenarnya, industri kecil bisa mulai mempelajari data sederhana dari website miliknya. Rekam historis akan memberi tahu tentang produk apa yang paling banyak diklik dan paling banyak terjual, penjualan pada musim puncak, atau sebaran data pelanggan.
UMKM juga bisa menggali informasi dari media sosial, misalnya tentang para pengikutnya, berapa banyak yang menjadi konsumennya, bagaimana respon atau komentar mereka, apa yang mereka sukai dan tidak sukai dari produk kita, dan berapa pengikutnya yang juga menyukai produk kompetitor.
Pelaku bisnis bisa mengukur sendiri apakah penggunaan data-data digital sederhana itu memberi dampak, misalnya menambah jumlah pelanggan atau menaikkan penjualan. Setelah itu, jika punya sumber daya manusia dan kapital, UMKM bisa mulai mengadopsi teknologi big data analytics yang lebih rumit.
Kabar baiknya, saat ini sudah banyak platform dan analytic tool yang harganya terjangkau akibat kompetisi yang makin ketat antar-produsen penyedia teknologi. Mereka mulai ramai-ramai menyasar pasar UMKM sebagai pengguna potensial.
GDIAnalytics, misalnya, sebuah tool produksi lokal yang didesain untuk UMKM dalam mengola data tak terstruktur dari media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Alibaba Cloud, bagian dari raksasa e-commerce Tiongkok yang didirikan Jack Ma, Alibaba.com, Maret ini, meresmikan data center pertamanya di Indonesia yang menyediakan platform public cloud untuk UMKM dan startup.
Semakin banyak pilihan teknologi yang terjangkau dan scalable sesuai ukuran bisnis dan kebutuhan, semakin mudah bagi UMKM untuk mengadopsi big data analytics. Persoalannya tinggal kemauan UMKM untuk berubah dan bersaing di era disrupsi.
“Kalau saya ditanya tentang big data, saya akan menganalogikan diri saya sedang mengendarai mobil di jalan yang gelap, dan big data adalah lampu yang bisa memberitahu hambatan yang ada di depan,” kata Muhammad Imran Himawan, CEO Data Driven Asia, dikutip TechinAsia.com beberapa waktu lalu.
Anda punya UMKM atau baru saja merintis usaha? Yuk, simak tips bisnis dan cerita inspiratif kewirausahaan di HebatnyaUKM.
Artikel selanjutnya