Administrator 154 post
Kolom

PENERAPAN LEAN MANUFACTURING DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA

Share : 11 December 2020

Dalam sistem produksi yang efektif, perusahaan manufaktur harus bisa menerapkan manajemen proyek yang baik. Salah satu sistem yang dapat ditempuh oleh industri manufaktur ialah penerapan sistem lean manufacturing, dimana sistem ini dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja atau karyawan, memiliki nilai efisiensi, serta unggul dalam operasional perusahaan.

Lean manufacturing adalah sistem produksi yang mempertimbangkan pengeluaran sumber daya yang ada demi mendapatkan nilai ekonomis terhadap pelanggan tanpa perlu melakukan pemborosan. Sistem ini akan selalu melihat nilai produk dari sudut pandang pelanggan, dimana nilai produk didefinisikan sebagai sesuatu hal yang akan dibayar pelanggan.

Tujuan dari penerapan sistem lean manufacturing ini ialah untuk mengurangi pemborosan (waste) di seluruh aspek produksi atau dalam rantai pasok, meningkatkan kualitas output (keluaran) atau produknya dan produktivitas, serta memperpendek lead time (waktu yang dibutuhkan dalam produksi).

Lean manufacturing dapat bermanfaat untuk menekan biaya produksi sehingga harga jual produk bisa lebih rendah dan dapat bersaing dengan kompetitor, meningkatkan produktivitas produksi perusahaan, memenuhi lonjakan permintaan dari para pelanggan, dan meningkatkan efisiensi proses dalam menghasilkan produk.

Strategi yang dapat digunakan dalam menerapkan sistem lean manufacturing, ialah:

1. Pull System Strategy (Strategi Sistem Tarik)

Melakukan sistem penarikan material saat diperlukan untuk meningkatkan fleksibilitas dan agar dapat merespon dengan cepat kebutuhan pelanggan serta menghindari pemborosan yang akan terjadi.

2. Quality Assurance Strategy (Strategi Penjaminan Kualitas)

Dalam lean manufacturing, kualitas dibangun dalam sebuah proses produksi. Beberapa teknik dan metodologi yang dapat dipakai dalam menjamin kualitas dalam produksi diantaranya adalah metodologi Six Sigma dan konsep dasar kualitas yaitu jangan menerima barang reject, jangan membuat barang reject, dan jangan melewatkan barang reject.

3. Plan Layout & Work assignment Strategy (Strategi Perencanaan Layout & Pembagian Tugas)

Strategi dalam merencanakan layout produksi agar dapat mengurangi pemborosan (waste) dalam proses serta pembagian tugas yang jelas pada masing-masing prosesnya.

4. Continous Improvement Strategy (Strategi Peningkatan yang Berkesinambungan)

Melakukan perbaikan dan peningkatan terhadap proses secara terus menerus dalam segala aspek seperti mengurangi pemborosan (waste), meningkatkan keselamatan kerja ataupun pengurangan biaya produksi.

5. Decision Making Strategy (Strategi Pengambilan Keputusan)

Pengambilan keputusan yang benar merupakan hal yang sangat penting dalam menjalankan peningkatan proses yang terus menerus. Contohnya, keputusan dalam mengubah layout produksi,  penggunaan peralatan kerja maupun penentuan pembagian tugas.

6. Supplier Partnering Strategy (Strategi Kerjasama dengan Pemasok)

Supplier atau pemasok merupakan salah satu pihak yang terpenting dalam memberikan dukungan dalam menjalankan lean manufacturing. Kerjasama dapat ditempuh dengan memberikan dukungan dalam pengiriman yang tepat waktu, menyediakan material (bahan produksi)  yang berkualitas tinggi atau bebas dari kerusakan. Supplier (pemasok) harus dianggap sebagai bagian dari perusahaan yang menerapkan lean manufacturing sehingga diperlukan juga pengembangan dan pelatihan terhadap pemasok.

Maka dari itu, dengan menerapkan sistem lean manufacturing yang baik, manajemen dan sistem produksi dapat bekerja secara lebih efektif. Tentunya, penerapan sistem lean manufacturing juga harus diikuti dengan penetapan SOP atau Standar Operasional Prosedur agar segala proses produksi dapat berjalan dengan lancar.

Referensi:
Talenta.Co
Pengadaan Barang.Co
Produksi Elektronik

Referensi Foto

Artikel selanjutnya