Administrator 116 post
Inspirasi Wirausaha

PENINGKATAN OMSET 1000% DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Share : 12 October 2020

Akhir-akhir ini, usaha Rendang Uni Tutie menjadi sorotan di tengah masa pandemi. Pada momen yang cukup sulit seperti saat ini, justru Rendang Uni Tutie milik Tutie mengalami peningkatan omset sebesar 1000%. Peningkatan tersebut tidak terlepas dari bagaimana perjalanan Tutie membangun usahanya sejak awal hingga saat ini.

Awal mula berdirinya usaha Rendang Uni Tutie terbilang cukup unik. Tutie saat itu, dimintai tolong oleh temannya untuk memasak rendang karena rendang bebek yang dibeli temannya belum cocok dengan selera orangtua temannya. Tutie sempat menolak karena beliau bukanlah tukang masak. Namun, temannya tetap percaya dengan kemampuan Tutie yang kebetulan juga keturunan minang atau dapat dikatakan terbiasa memasak rendang di momen-momen tertentu. Akhirnya Tutie menyetujui permintaan tersebut.

Kebetulan ketika Tutie memasak rendang bebek untuk temannya, semua kebutuhan tersedia. Kuali besar sudah dimilikinya walaupun terangnya jarang digunakan. Persediaan kayu bakar sebagai bahan bakar kualinya saat itu sedang melimpah karena sedang ada pembangunan. Singkat cerita, masakan buatan Tutie pun sukses disukai temannya dan orangtua temannya. Kemudian, Tutie iseng untuk memposting rendang buatannya ke sosial media, tanpa terduga respon permintaan rendang buatannya melonjak naik.

Semenjak Tutie memposting rendang masakannya pada bulan November tahun 2015, pesanan terus datang tanpa henti. Bermula dari produk rendangnya yang menggunakan kemasan apa adanya hingga sekarang sudah menjadi layaknya kemasan yang profesional, Tutie terus kedatangan permintaan. Seluruh pesanan tersebut Tutie penuhi menggunakan layanan pesan-antar. Tutie percaya bahwa rendang dapat bertahan lama, sehingga aman jika dikirim ke berbagai daerah.

Model bisnis yang dipilih Tutie hingga sekarang memang mengandalkan transaksi secara online melalui berbagai marketplace. Sejak awal tidak memliki toko fisik untuk display produk, hanya ada dapur dan tempat pengemasan yang berlokasi di Depok. Produknya pun sudah melanglang buana baik dalam negeri maupun luar negeri melalui eskpor. Tidak jarang produknya dibawa dalam berbagai festival makanan seperti International Islamic Festival 2016, Festival Kuliner Jogja 2017, Festival Indonesia 2017 di Moscow, Pangan Nusa-TEI 2017 dan masih banyak lagi.

Tidak berhenti disitu saja, Tutie juga bergabung menjadi member mitra YDBA untuk menjaring relasi lebih banyak dan meningkatkan kualitas usaha. Sebenarnya, YDBA bukanlah hal yang asing bagi Tutie karena sempat bekerja di salah satu perusahaan Grup Astra juga. Koneksi yang dimiliki Tutie dengan YDBA pun mengantar Rendang Uni Tutie menjadi mitra YDBA. Tutie termasuk yang cukup aktif, berbagai pelatihan dan pendampingan diikuti. Salah satu pelatihan yang berkesan bagi Tutie adalah Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin (5R). Sebelumnya Tutie sudah menerapkan standar Good Manufacturing Practices (GMP) pada produknya, ketika ditambah dengan penerapan 5R baginya memberikan dampak yang baik bagi usahanya.

Seiring perjalanan usaha Rendang Uni Tutie, pada tahun 2019 Tutie mulai membuat izin edar Makanan Dalam (MD) ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bagi usaha Rendang Uni Tutienya. Hal ini sebenarnya Tutie lakukan karena saat itu salah satu perusahaan makanan besar menawarinya kontrak kerjasama. Perusahaan tersebut mensyaratkan kerjasama apabila usaha Tutie sudah memiliki sertifikat MD dari BPOM. Setelah izin edar MD dari BPOM didapat dan Tutie bisa mendapatkan order tersebut kebetulan terjadi bersamaan dengan munculnya pandemi.

Ketika pandemi Covid-19 muncul, usaha Rendang Tutie justru mendapatkan peningkatan omset 1000%. Hal tersebut terjadi karena kerjasama yang didapatkan Tutie sebelum pandemi. Memang momennya secara kebetulan bertepatan dengan pandemi tetapi terdapat alasan kenapa usaha Rendang Uni Tutie tetap mampu melaksanakan pesanannya ditengah pandemi.

Pertama, protokol kesehatan pandemi sudah diterapkan oleh Tutie sejak kabar pandemi ini belum hadir di Indonesia karena inisiatifnya setelah melihat berita virus corona di Wuhan. Jadi, Tutie sudah siap menghadapi pandemi sebelum himbauan pemerintah Indonesia dikeluarkan. Kedua, baginya untuk tetap fokus pada bisnisnya adalah kunci untuk bertahan di situasi pandemi. Memang bagi sebagian kasus, ketika pandemi mengganti fokus produk yang sesuai pasar karena keterbatasan produksi utama menjadi solusi. Namun, bagi Tutie justru jenis produknya bisa berkembang pesat walaupun menghadapi pandemi sekalipun apabila tetap fokus dikerjakan. Ketiga, terus berinovasi agar terus menarik bagi pelanggan. Salah satu inovasi mendasar bagi produk rendang usahanya adalah membuat rendang bisa bertahan lebih dari setahun.

Alasan terakhir dan yang menjadi kunci utama Tutie mempertahankan usahanya di tengah pandemi adalah menjaga kualitas produk. Baginya, berbagai kondisi bisa terjadi pada bisnis termasuk pandemi Covid-19 ini. Apapun kondisinya mutu produk tidak boleh berkurang. Berbagai inovasi pun juga dilakukan tetapi kualitas bahan dan sebagainya harus tetap terjaga. Begitulah beberapa cara mempertahankan usaha ditengah pandemi sekalipun ala Tutie.

Artikel selanjutnya