Pegiat UKM Hebat

PENTINGNYA MENDAMPINGI, BUKAN SEKEDAR MEMBERI ILMU

Share : 03 May 2019

- Alik Sutaryat, Direktur Aliksa Organic SRI Consultant (AOSC) -

 

Awal pertemuan AOSC dengan YDBA melalui LPB Pama Bessai Berinta (Pabeta), terjadi pada saat tim AOSC sedang mendampingi proses pengimplementasian SRI (System of Rice Intensification) di Bontang, Kalimantan Timur. “Selama ini padi tidak mendapatkan produksi yang tinggi, kemudian hama disemprot menggunakan pupuk kimia. Setelah kami sarankan untuk mengganti dengan pupuk organik, hasilnya luar biasa,” ungkap Direktur AOSC, Alik Sutaryat, tentang keberhasilan pelatihan dan pendampingan padi SRI Organik di Bontang. Saat disitulah, salah satu pendamping AOSC bertemu dengan Koordinator LPB Pabeta, Suryo Aji, yang tertarik dengan metode tersebut.

 

Ketika Alik sedang monitoring program pemberdayaan di Bontang, beliau akhirnya bertemu langsung dengan Aji. Mereka saling berdiskusi mengenai pemberdayaan, “Saya jelaskan bahwa model pemberdayaan kami ada tiga kawasan, yaitu kawasan kerja, kawasan peran, dan kawasan sosial. Melalui penyadaran pola pikir, akan merubah kerja dari yang kurang menguntungkan menjadi pekerjaan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Setelah itu, setelah satu hingga dua bulan, diberikan kawasan peran, yang bertujuan memberdayakan dirinya menjadi fasilitator di desanya. Ketika menjadi fasilitator inilah, mereka bisa menjadi tempat studi kelompok untuk daerah dan asalnya.” Aji pun mengajak Alik untuk mengadakan pelatihan bagi para petani di Desa Sukadamai, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

 

Ketika meninjau lokasi, Alik mengamati bahwa kondisi produktivitas lahan sangat sedikit, artinya mereka bertani tidak menguntungkan. Di samping itu, penggunaan pupuk dan pestisida sudah cukup tinggi, sehingga semakin merugikan. “Kemungkinan mereka memandang tanah seperti benda mati, tidak hidup, sehingga dilakukan semena-mena, benar-benar tidak dikasih ‘makan’ ke tanahnya,” kata Alik. Melalui AOSC, Alik mau menyadarkan bahwa bahan organik yang selama ini dibakar dan dibuang ternyata bisa bermanfaat bagi produktivitas lahan. Proses tersebut ia bagikan dalam pelatihan yang dilanjutkan dengan pendampingan. “Harus ada pendampingan sebab berdasarkan penelitian kami, dari 100 persen pembelajaran hanya 15 persen yang didapat, 85 persen hilang. Makanya saya bilang ke Pak Aji, mohon maaf, kami harus mendampingi. Karena kalau tidak didampingi, saya batal kerjasama,” ujar Alik. Atas dedikasi inilah, Alik pun bersedia untuk menjadi Ayah Angkat bagi Sektor Unggulan Padi Organik.

 

Selain melakukan pendampingan, Alik juga mengajak para petani mitra LPB Pabeta untuk mengikuti Training of Trainer (ToT) di Kantor Cabang AOSC di Banjar, Jawa Barat. Selama 7 hari pelatihan, sebanyak enam petani diajarkan metodologi pembelajaran SRI, mulai dari cara menyampaikan, proses pembelajaran orang dewasa, serta cara mempelajari makna dari proses pemberdayaan. Kemudian mereka dapat mempraktekkan di musim tanam berikutnya.

 

“Menjadi ayah angkat itu ternyata menarik dan nyata hasilnya. Petani bisa membangun image, mengubah cara pandang, serta mampu mengaplikasikannya,” ungkap Alik terkait kesannya menjadi Ayah Angkat. Beliau berharap, Bontang bisa menjadi contoh dalam mengelola alam dengan serius, serta bisa menjadi teladan bagi masyarakat di situ. Sehingga kedepannya, hasil olahan mereka dapat menguntungkan bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain.

Artikel selanjutnya