Kisah UKM Hebat

Rusman : Dulu Kita Pembunuh Massal

Share : 28 March 2019

Mengawali perjalanan sebagai seorang pelaut kemudian bekerja di pertambangan batu bara, Rusman kini justru menekuni pertanian padi sawah organik di Desa Suka Damai, Bontang, Kalimantan Timur. Berbekal pengetahuan yang didapatkannya dari LPB Pama Bessai Berinta dan Yayasan Aliksa, ia kini semakin mantap menjalankan pertanian organiknya. Bagaimana pengalamannya dalam beralih dari pertanian konvensional (kimia) menjadi organik? Begini kisah singkatnya.

Rusman yang mulai bertani padi sawah sejak sekitar tahun 2010 silam sebetulnya sempat berkenalan dengan sistem pertanian organik pada salah satu pelatihan yang diadakan oleh salah satu instansi beberapa saat sebelum ia berkenalan dengan LPB Pabeta. Namun, karena pada saat itu sang instruktur tidak dapat meyakinkannya untuk beralih, ia pun tetap menggunakan metode konvensional (kimia) dalam mengelola sawahnya. Akan tetapi, ketika LPB Pabeta mengenalkan Yayasan Aliksa, ahli sistem pertanian organik, sebagai ayah angkat program sektor unggulan, Rusman dan beberapa petani lain pun tertarik dan mulai mencoba pertanian organik. Walaupun pada awalnya sempat meragukan dan justru membuat omzet menurun, hasil dari pertanian organik yang lambat laun mulai menunjukkan perubahan signifikan membuat Rusman semakin yakin melanjutkan sistem pertanian ini. Bayangkan, dari sisi penggunaan pestisida yang tadinya bisa menelan biaya 4-5 juta rupiah per musim, kini bisa ditekan hingga hanya 300 ribu rupiah saja! Selain itu, hasil pertanian yang tadinya berkisar di angka 1 ton pun meningkat menjadi 4 ton.  Melihat hasil positif itu, Rusman dan beberapa petani lain kini mulai membagikan ilmu dan pengalamannya kepada petani di desa lain.

“Ngajar itu buat saya pengalaman dan tantangan tersendiri Mas. Tapi ya saya senang, karena semakin besar tantangan kan berarti belajar juga” begitu ujar pria 33 tahun ini. Baginya, mengajar petani lain yang belum beralih ke pertanian organik itu susah-susah gampang, khususnya dalam hal mengubah pola pikir para petani yang sudah terbiasa menggunakan metode konvensional untuk berubah menggunakan metode organik. “Ya gitu Mas, mereka kadang kalau dikasih tahu bilang iya-iya, tapi ga dilakuin juga, sama seperti kita dulu,hahaha” ujarnya sambil tertawa.

Ketika ditanya tentang pengalaman yang membuatnya akhirnya bisa berubah menjadi lebih baik, bapak dua orang anak ini pun mengatakan bahwa ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan LPB Pabeta yang akhirnya melalui Program Sektor Unggulan Padi Organik dapat mengubah pola pikir ia dan beberapa rekan petani lainnya. “Saya tuh akhirnya berubah, dulu kita itu pembunuh massal” begitu lagi ujarnya sambil bercanda mengingat kembali sistem pertanian kimia yang ‘kerjaannya’ menghabisi makhluk-makhluk hidup seperti kumbang, kutu, dan berbagai serangga yang sebenarnya justru bermanfaat bagi pertanian. Pengalaman perubahan pola pikir tentang serangga yang tadinya dianggap musuh tetapi ternyata membantu benar-benar tidak bisa dilupakan olehnya. “Misalkan laba-laba, ternyata dia membantu kita memakan wereng dan walang sangit” jelasnya.

Kini, ia bersama anggota Sektor Unggulan Padi Organik Bontang tengah berupaya untuk menyebarkan ‘virus organik’ kepada petani-petani lain di desa sekitar sambil mencoba menerapkan sistem pertanian organik pada tanaman lain seperti tanaman hortikultura. “Pokoknya saya siap kalau ada yang mau tanya atau berbagi tentang organik ini, karena saya sudah tau kalau ini memang baik” ujarnya.

Artikel selanjutnya