Kisah UKM Hebat

Tri Retno: Berbisnis Kerajinan untuk Berbagi

Share : 09 July 2017

Wajah Tri Retno, pemilik Citra Handicraft Blacu masih tampak lelah ketika menyambut kedatangan tim HebatnyaUKM di rumahnya, Kompleks Sawangan Permai, Depok, Jawa Barat. Siang itu, ia memang baru kembali dari acara peresmian Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Depok. Kegiatan seperti ini penting bagi Retno. Karena dari sana, ia bisa bertemu dengan komunitas pelaku bisnis kerajinan dan membangun jaringan.
“Tadi saya bertemu dengan pelaku bisnis online yang menawarkan jasa untuk memasarkan produk kami,” kata Retno pada Selasa, 23 Mei 2017.
Beberapa waktu terakhir ini, Retno memang sedang mendalami ilmu pemasaran online, contohnya saja kursus pemotretan produk di marketplace. Ini dilakukannya, sebab ia sadar kalau selama ini kekurangan Citra Handicraft Blacu adalah pemasaran secara online.
“Soalnya saya gaptek (gagap teknologi),” kata Retno. Makanya, dia giat belajar untuk menangkap kesempatan dan merambah pasar di dunia maya. "Setelah pelatihan, produk Citra Handicraft bisa langsung dipasarkan melalui situs marketplace tersebut."

Produk Citra Handicraft
Contoh Produk Citra Handicraft


Di usianya yang menginjak 59 tahun, sebenarnya Retno sudah tidak berambisi untuk mengembangkan bisnis hingga membawanya di titik tertinggi. Dia juga tidak punya target tertentu yang harus dicapai setelah pengembangan pasar online. “Bukannya saya tidak mau maju, tapi saya hanya tidak ingin terlalu ngoyo bekerja,” kata Retno. "Saya cukup berusaha agar bisnis berjalan tetap stabil dan memperoleh pendapatan bulanan untuk membayar karyawan."
Retno lalu mengajak tim HebatnyaUKM untuk melihat workshop kerajinan yang terletak di lantai dua rumahnya. Di sanalah tempat bisnis Citra Handcraft Blacu berjalan. Hari itu, ada tiga orang yang melakukan berbagai pekerjaan menjahit atau menduplkasi pola yang sudah dibuat Retno. Sebenarnya, karyawan Citra Handicraft yang bekerja di workshop ada enam orang. Namun, pada hari itu, ada karyawan yang tidak ada di tempat karena bertugas membeli bahan di pasar.
Di luar workshop, Retno juga memekerjakan seorang pegawai pria yang bertugas sebagai teknisi, dan seorang tukang bordir. Selain itu, setiap semester ganjil, Citra Blacu mendapat bantuan tenaga dari 6-7 siswa SMK yang magang. Sementara, untuk urusan pameran diserahkan pada dua orang yang tidak terlibat dalam urusan produksi.
Menurut Retno, sebagian besar karyawannya adalah ibu-ibu tetangga di sekitar rumahnya. Mereka pun bisa bekerja tanpa perlu diawasi dari dekat setiap hari. Sebab Retno telah menerapkan sistem dalam usahanya, sehingga mereka sudah tahu tugas masing-masing. "Jadi saya bisa pergi pada pagi atau siang hari untuk menghadiri berbagai pertemuan dan membangun jaringan,“ ujarnya.
Sebelum bisnis Citra Handicraft Blacu, Retno meniti karier di Industri Pesawat Terbang Nusantara (sekarang PT Dirgantara Indonesia), sejak 1982. Sekitar 1989, lulusan Metalurgi, Akademi Industri Logam ini masih dipercaya untuk mewakili perusahaan pembuat pesawat di Amerika Serikat itu. "Namun saya tengah hamil anak kedua, dan suami meminta saya untuk mengurus rumah dan anak-anak saja," kata dia.
Sebagai mantan pegawai kantoran yang terbiasa aktif, Retno tidak bisa berdiam diri saja di rumah. Berbekal dari ajaran orangtuanya akan jahit-menjahit sejak remaja, Retno memutuskan membuka usaha jahit pakaian di rumah sejak 1989. Pada saat itulah, wanita yang hobi travelling ini, memupuk harapan agar bisnis jahit-menjahit bisa membawanya jalan-jalan ke luar negeri. Entah bagaimana caranya.
Pada awal membuka bisnis jahit, Retno sesungguhnya belum paham akan tips-trik berwirausaha. Namun ia langsung merekrut pegawai, sesuai pesan sang suami agar dirinya bisa mengatur dan mengarahkan pekerja. Untuk proses menjahit, ia menggunakan mesin jahit yang ada di rumahnya.
Dari awal, jasa jahit baju milik Retno cukup dikenal warga sekitar. Banyak orang yang memesan pakaian, tapi tak sedikit pelanggan yang menyampaikan keluhan. “Ketika jahitan berbeda satu milimeter saja, maka bajunya tidak enak dipakai,” kata dia. Tapi semua itu tidak membuatnya putus asa. Bahkan ia terus belajar mengembangkan bisnis dan produknya.
Sekitar 10 tahun menjalankan bisnis jahit pakaian, Retno mencoba membuat beberapa perlengkapan rumah tangga dari bahan kain. Misalnya saja pada 2004, ia mengeluarkan produk tas mukena dengan menggunakan bahan blacu, yang harganya murah.
"Bahan blacu hanya seharga Rp12-15 ribu per meter. Sedangkan katun Jepang bisa mencapai Rp 35 ribu per meter," kata dia. Retno menjual tas mukena itu ke ibu-ibu pengajian di sekitar kediamannya, seharga Rp 15-20 ribu. Ternyata produknya disambut dengan baik. Sejak saat itu, Retno mulai mendalami bisnis produk kerajinan berbahan blacu. "Saya juga membuat taplak meja, tudung saji, tempat tisu, hingga penutup galon."
Salah satu cara pegembangan bisnis Citra Handicraft Blacu adalah dengan mengembangkan produk. Retno memanfaatkan berbagai sumber untuk membuat desain baru. Suatu kali kerabat Retno membawakan wadah kresek bekas dari Australia. Bentuk wadah yang bulat memanjang dinilai unik oleh Retno. Maka, dia membongkar cindera mata itu, lalu meniru desainnya.
Kemudian, Retno mencoba tes pasar dengan memberikan produk wadah kresek kepada tetangga. Kebetulan, tetangga Retno tersebut baru punya bayi. Beberapa hari kemudian, tetangganya mengucapkan terima kasih atas pemberian sarung guling bayi. “Mati aku!” kata Retno sambil menepuk jidat. Sejak itu, Retno menyadari kalau desain produk tidak bisa diduplikasi mentah-mentah. Dia harus merancang desain yang tepat agar orang langsung mengerti cara penggunaannya.
Lalu, Retno mencoba belajar mendesain gambar lebih giat. Dia melihat bagaimana teman-teman yang lebih ahli mendesain membuat karya. Ia mengambil ilmunya. Retno lalu memadukan gambar yang disablon dan kain perca yang ditempel di atas blacu. Selain itu, suaminya juga membantu membuat gambar yang lebih maskulin. Beberapa produk Citra Handicraft yang bergambar mobil atau sepeda cukup populer di antara konsumen pria.
Selain membuat variasi produk, Retno juga belajar pemasaran di berbagai tempat. “Awalnya, saya mendatangi kantor Dinas UKM dan Perdagangan Depok, dan meminta mereka bantuan untuk mempromosikan produk,” ujarnya. Dari usaha itu, Pemerintah Depok bersedia membantu memperkenalkan produk Retno sampai ke tingkat provinsi. Retno pun aktif bergabung dengan koperasi nasional. “Saya belajar pemasaran dari semuanya. Dari pintu ke pintu,” kata dia.
Sekitar tahun 2009, Retno menjadi UKM binaan Pertamina. Saat itu, Retno mendapat kesempatan untuk pameran di luar negeri. “Saya diajak ikut pameran ke Hong Kong, Yordania, dan Dubai,” ujarnya. Retno merasa bersyukur karena mimpinya terwujud. Bisnis kerajinan blacu ini akhirnya bisa membawanya jalan-jalan ke luar negeri.
Sejak terlibat dengan berbagai komunitas pengrajin, Retno pun mendengar tentang Yayasan Dharma Bhakti Astra yang membina berbagai UKM. Tapi, Retno belum memahami apa saja kegiatan YDBA. "Pada 2014, Tim dari YDBA mengajak saya bergabung dengan YDBA," kata Retno. Tim YDBA hanya meminta Retno aktif dalam kegiatan organisasi seperti mengikuti pelatihan.
Setelah bergabung dengan Astra, ternyata Retno mendapat manfaat lebih besar. Dia memperoleh kesempatan mengikuti kegiatan pameran Trade Expo Indonesia. Produk Citra Handicraft mendapat sambutan yang baik dari pengunjung pameran. Bahkan, Retno sempat memperoleh tawaran pemesanan dari Hong Kong.
Meski kerap mendapat pesanan dari luar negeri, Retno tidak tertarik untuk melakukan ekspor. “Karena kalau melayani ekspor, butuh surat-menyurat yang membuat kepala saya pening,” kata dia. Belum lagi jika Retno harus menghadapi risiko re-ekspor yang bisa menimbulkan kerugian. Maka, Retno lebih memilih fokus untuk menggarap pasar dalam negeri saja. “Orang berpikir kalau UKM yang bisa ekspor, maka akan mendapat gengsi. Padahal, melayani ekspor itu sulit. Harga ditekan-tekan, waktu diburu-buru,” ujarnya.
Selain Trade Expo Indonesia, YDBA juga memberi kesempatan Citra Handicraft Blacu untuk pameran di Teras Indonesia di IKEA Alam Sutera pada Februari 2017. Konsumen di IKEA cukup antusias. “Sehari sebelum pameran, saat kami masih menyusun barang, ada empat orang yang sudah mengantre untuk membeli,” katanya.
Sepanjang menjalani bisnis blacu, Retno pernah mengalami keterpurukan. Dia tahu rasanya ditipu ketika ada seseorang yang minta dibuatkan tas wadah makanan dalam jumlah besar, namun pesanannya tidak diambil. Dia tahu rasanya dikhianati seseorang yang dipercaya dalam mengurus jaminan hari tua para karyawan. “Saya tidak mengambil hati. Saya malah jadi belajar bersabar dan menerima. Kalau bukan rezeki, ya sudah,” ujarnya.
Retno pun tidak pernah berpikir untuk berhenti. “Sebab, masih banyak orang yang membutuhkan (saya),” ujarnya. Karyawan Retno adalah tetangganya sendiri yang butuh pekerjaan. Jadi, kalau dia merasa malas bekerja, maka karyawannya yang bisa menjadi penyemangat.
Saat ini, Retno sudah tidak lagi berambisi untuk mengangkat Citra Handicraft Blacu ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Toh, dia sudah berhasil mewujudkan mimpi yang diucapkan saat pertama membangun Citra Handicraft dulu. Ia sudah pernah berjalan-jalan ke luar negeri untuk memamerkan karya Citra Handicraft ke mancanegara. Sekarang, Retno hanya butuh kegiatan untuk mengisi hari-hari tuanya. Retno ingin usahanya stabil agar bisa membayar karyawan. "Dengan begitu, saya bisa terus berbagi," kata Retno.

Artikel selanjutnya