Aloysius Daniel Harbianto 1 post
Inspirasi Wirausaha

Yang Mau Berubah Tak Akan Kalah

Share : 12 December 2018
Berita apa yang paling sering kalian lihat saat nonton TV akhir-akhir ini? Jawabannya ga akan jauh dari intrik Politik, masalah Kota Jakarta atau berita artis berperkara. Ga kaya TV nasional jaman dulu yang banyak nayangin acara tentang sains atau kuis tentang pengetahuan umum. Lalu yang jadi pertanyaan, mengapa media kini lebih banyak fokus memberitakan hal negatif? Sebagian judul berita di media elektronik ataupun cetak didominasi oleh headline yang mengandung makna negatif. Kalo bahasa anak sekarang disebut clickbait atau umpan klik. Tentu ini menjadi fenomena menarik di tengah semangat banyak pihak untuk membangun Indonesia lebih baik. Dari artikel yang pernah dirilis BBC (lihat artikel), disebutkan bahwa ternyata pembaca berita lebih cepat bereaksi terhadap kata-kata yang bersifat negatif. Berdasarkan eksperimen sosial yang pernah dilakukan, pembaca akan cenderung memilih berita yang judul mengandung kata negatif. Lalu bagaimana nasib berita positif yang tenggelam ditengah arus berita negatif?

Melihat sisi positif Indonesia tentu ga akan cukup hanya dengan nonton atau baca berita dari media. Kita sesekali harus melihat ke berbagai sudut pelosok negeri ini untuk melihat hal sederhana yang membawa semangat positif.

Perhatian saya terhenti di sebuah kampung bernama Karangpoh di Kabupaten Klaten. Ini pertama kali saya datang ke kampung ini dan ternyata hampir seluruh kepala keluarga di desa ini berprofesi sebagai pengrajin besi tempa. Mereka membuat cangkul, sabit, dan berbagai perkakas pertanian lainnya dengan alat yang sangat sederhana. Sudah menjadi hal yang lumrah jika kita masuk ke desa ini terdengar bising suara besi sedang ditempa. Bahkan terkadang, kita perlu bicara dengan lebih keras supaya pembicaraan terdengar jelas kalo lagi ngobrol di kampung ini. Usaha yang mereka jalani bukan lagi usaha seumur jagung, melainkan usaha turun temurun dari orang tua mereka. Tidak heran peralatan dan kondisi ‘bengkel’ tempat kerjanya juga masih jadul dan sangat berantakan. Coba bayangkan saja, bengkel yang penuh lembaran besi, palu, alat las, bisa-bisanya ada toples isi krupuk buat cemilan di tengah tumpukan besi. Ga takut itu pecahan besi tertukar krupuk ya? Ini sebetulnya menjadi pertanda, bahwa kehidupan harian mereka tidak bisa lepas dari aktivitas menempa besi bahkan makan pun sampai harus di bengkel.


Kondisi sebelum penerapan 5R


Kondisi bengkel yang berantakan dan kotor bukan lagi menjadi pemandangan aneh bagi warga kampung. Semakin berantakan, semakin baik tandanya karena artinya order pengerjaan alat pertanian sedang tinggi. Tapi ada hal mendasar yang menjadi pertanyaan di kepala saya, mungkinkah ada bengkel yang bisa berubah rapi dan bersih?

Awal 2018 menjadi titik awal perubahan kecil terjadi. YDBA melalui kantor cabangnya di Klaten, menjalankan program pelatihan dan pendampingan kepada pelaku usaha kecil khususnya pengrajin alat pertanian di Dusun Karangpoh. Saat ini yang menjadi pilot project pembinaan adalah UKM Arum Sari milik Pak Supriyanto. Kondisi awal bengkel ini sungguh berantakan. Kita tidak bisa membedakan mana barang terpakai, mana sampah, mana pula bahan baku. Semua tertumpuk jadi satu tak beraturan. Melihat kondisi tersebut, YDBA menginisiasi program 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin).

Program ini diawali dengan memisahkan berbagai barang yang sudah tidak terpakai. Kemudian dilakukan penataan lantai produksi di bengkel sederhana itu. Mulai dari merapikan barang di lantai, pengecatan lantai produksi, hingga penataan tata letak produksi untuk memudahkan keluar masuk barang sesuai alur produksi. Seluruh peralatan disatukan ke dalam satu tempat khusus sehingga memudahkan pekerja saat akan menggunakannya. Bayangkan sebelumnya, untuk mencari palu saja sampai harus mencari di tengah tumpukan barang rongsokan. Hal ini menyebabkan proses produksi menjadi lebih lama dan pekerja hanya sibuk mencari barang di tengah tumpukan. Proses perubahan ini tidaklah mudah, karena banyak pekerja yang sudah merasa nyaman dengan kondisi sebelumnya. Ini bicara bukan hanya mengubah tampilan bengkel, tapi lebih dalam dari itu yaitu mengubah kebiasaan.


Kondisi setelah penerapan 5R


3 bulan usaha untuk mengubah bengkel dan menerapkan 5R menjadi kenyataan. Ketika saya hadir ke tempat itu, jelas sekali perubahan yang sudah dilakukan Pak Supriyanto. Seluruhnya sudah tertata rapi dan karyawan ternyata menjadi lebih nyaman dengan kondisi yang demikian. Lalu saya bertanya, kenapa bapak mau repot-repot memperbaiki bengkel? Ia menjawab singkat, “5R membawa manfaat besar untuk usaha saya,Mas”. Jawaban sederhana yang saya yakin di balik itu tidak sederhana. Lalu saya lanjut bertanya, “Apa manfaatnya, pak?”. “Yang jelas hasil produksi saya jadi naik setelah bengkel tertata seperti ini, mas”. “Tadinya seminggu hanya bisa hasilkan 8 kodi, sekarang sudah bisa 10 kodi tanpa menambah jam kerja”. Ini tentu berdampak langsung terhadap produktivitas dan pendapatan UKM Arum Sari. Saya kagum melihat dan mendengar cerita perubahan yang terjadi dan dampaknya untuk bisnis UKM. Mungkin terlihat sepele, namun perjuangan untuk berubah seperti itu setelah nyaman dalam puluhan tahun tentulah tidak mudah.

Cerita singkat di atas menjadi sebuah bukti bahwa hal-hal positif masih banyak terjadi di tengah masyarakat. Kalo kita bosan dengan berita negatif yang selama ini memenuhi berbagai media, mungkin sesekali kita perlu melihat langsung ke masyarakat untuk sekedar mendengar cerita-cerita positif lalu menceritakannya kembali kepada orang lain.

Semangat positif ini menjadi api kecil untuk harapan Indonesia yang lebih baik, karena bisnis yang juara akan sibuk menciptakan perubahan,bukan malah tenggelam karenanya.
Artikel selanjutnya