BANK SYARIAH DIMERGER, WAMEN BUMN JANJI UMKM TETAP DIPRIORITASKAN

"Pasti UMKM akan jadi salah satu sasaran untuk peningkatan dalam merger bank syariah" Kartika Wirjoatmodjo

Share : 06 July 2020
Jakarta - Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menjawab kekhawatiran dari organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah ihwal rencana merger atau penggabungan bank syariah milik negara. Menurut dia, rencana ini tetap akan memproritaskan pelaku UMKM.
 
"Pasti UMKM akan jadi salah satu sasaran untuk peningkatan dalam merger bank syariah," kata Tiko, panggilan Kartika, saat dihubungi di Jakarta, Minggu, 5 Juli 2020.
 
Menurut Tiko, pembiayaan untuk UMKM pun dipastikan tidak akan berkurang setelah merger dilakukan. Terlebih saat ini UMKM juga terkenda dampak pandemi Covid-19.
 
Rencana merger sudah disiapkan sejak awal 2019. Bank Mandiri Syariah, BNI Syariah, BRI Syariah, dan BTN Syariah, akan dilebur demi akselerasi ekonomi syariah di tanah air. Beberapa hari lalu, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan merger ditargetkan rampung Februari 2021.
 
Namun rencana ini dikritik oleh Muhammadiyah. Pengurus Pusat Muhammadiyah menganjurkan penggabungan atau merger bank syariah ini tidak dilanjutkan. Muhammadiyah khawatir jika semakin besar sebuah bank, semakin besar pula kecenderungannya terdorong menyalurkan pembiayaannya kepada korporasi karena lebih praktis.
 
"Kami mengharapkan pengelolaan perbankan syariah milik BUMN ini tidak perlu dimerger dan mereka oleh pemerintah difokuskan saja untuk menggarap dan memajukan UMKM dan tidak boleh masuk ke usaha besar," kata Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas, seperti dilansir dari Bisnis.com pada Sabtu, 4 Juli 2020.
 
Dihubungi pada Minggu, 5 Juli 2020, Anwar menyebut merger bisa saja dilakukan terhadap bank syariah milik BUMN ini. Namun dengan aturan hanya boleh mengucurkan dana ke UMKM , bukan ke usaha besar. "Jadi kalau tidak menjalankan, dikenai penalti," kata dia.
 
Di tengah rencana merger ini, penyaluran kredit untuk UMKM memang sedang dalam tren meningkat. Asosiasi UMKM Indonesia atau Akumindo terjadi peningkatan sekitar 15 persen, dalam beberapa tahun terakhir. Tak hanya di Bank Syariah milik negara, tapi juga swasta.
 
Sementara itu, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah juga menilai rencana merger sebaiknya tidak dilakukan. Sebab, jumlahnya masih relatif terbatas .
 
"Menurut saya rencana merger tidak positif untuk mendorong perbankan syariah," katanya Piter kepada Bisnis.com pada Jumat, 3 Juli 2020.
 
Daripada melakukan merger, kata dia, lebih baik membiarkan bank-bank syariah BUMN untuk tetap bersaing dan mendorong semakin tumbuhnya perbankan syariah. Selain itu, pemerintah dinilai bisa melakukan pengembangan bisnis halal secara lebih progresif. Dengan hal tersebut, pengembangan perbankan syariah akan lebih maju lagi.
 
Sementara itu, Ketua Akumindo Ikhsan Ingratubun mengatakan tujuan dari merger biasanya untuk membuat bank semakin sehat dan jangkauan layanan bisa bertambah besar. Namun yang pasti, Ikhsan berharap keberpihakan terhadap UMKM tetap menjadi yang utama dalam merger ini.
 
"Sepanjang bank tersebut merger namun masih tetap fokus ke UMKM, saya kira enggak ada masalah," kata Ikhsan kepada Tempo.


Pewarta: Fajar Pebrianto

Editor: Dewi Rina Cahyani

COPYRIGHT (c) TEMPO 2020




Sumber : Tempo.co

"Pasti UMKM akan jadi salah satu sasaran untuk peningkatan dalam merger bank syariah" Kartika Wirjoatmodjo