Kesiapan UMKM Menghadapi Kemajuan Fintech dan Hadirnya Industri 4.0

Ilustrasi Fintech. Kesiapan UMKM Menghadapi Kemajuan Fintech dan Hadirnya Industri 4.0 medium.com/Michigan FinTech

Share : 27 December 2018
PADA saat ini kita dihadapkan dengan revolusi industri 4.0 dan kemajuan Financial Technologyyang semakin canggih.
 
Namun dibalik itu semua apakah pelaku usaha sudah siap menghadapinya? Beberapa UMKM mengaku antusias dan menerima kemajuan transaksi saat ini yang dirasa lebih praktis dan efisien.
 
Namun pengamat menyatakan bahwa perlu adanya survei pengetahuan dan edukasi literasi keuangan yang pasti sebelum Fintech meluas lebih jauh.
 
Menurut para pakar, dunia saat ini telah memasuki era baru terutama dalam hal industri yang disebut revolusi industri 4.0. Sebuah era dimana internet berperan penting sebagai jantung operasi.
 
Internet berperan menggantikan peran manusia hingga mesin sekalipun dalam hal transaksi data tanpa batas geografis.
 
Di sisi lain tentu timbul dalam benak kita sebuah kekhawatiran, apakah kita semua sudah siap dengan perubahan ini? Tapi bagaimanapun juga masyarakat sudah mulai merasakan kehadiran industri 4.0 ini, sebut saja Fintech.
 
Fintech atau Financial Technology kini makin menjalar masuk sampai ke usaha kecil di masyarakat.
 
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan Fintech terbagi dalam tiga kategori, yaitu pembayaran, pembiayaan, dan pengelolaan.
 
Kategori pembayaran sendiri merupakan kategori yang paling banyak berkembang dari segi jumlah industri Fintech yang mengelola maupun pihak yang bekerjasama dengan Fintech terkait.
 
Nama-nama seperti GO-PAY ataupun OVO sudah tidak asing lagi didengar di telinga kita.

Bogor sendiri sudah marak menggunakan pembayaran non-tunai pada UMKM yang  besar sampai kecil sekalipun, sebut saja Foodpedia.
 
Aulia Rahman, manajer dari bagian Business Development Foodpedia yang berlokasi di Dramaga Bogor menjelaskan bahwa Foodpedia sudah mulai menerapkan Fintech dalam usaha mereka.
 
Foodpedia telah menerapkan sisteme-wallet yang bekerjasama dengan salah satu perusahaan Fintech bernama E tanee untuk membantu sistem pembayaran mereka.
 
“Secara umum kita diuntungkan dengan adanya Fintech, selain memudahkan sistem pembayaran, dari pihak kita sendiri mendapat risiko kerugian yang kecil. Jika sistem pembayaran Fintech berjalan lancar,maka kami juga ikut untung, dan sebaliknya jika sistem sedang tidak berjalan baik, kami pun tidak mengalami kerugian.” Jelas Aulia.
 
Ketika disinggung mengenairevolusi industri 4.0, Aulia menjelaskan bahwa memang sudah seharusnya kita menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
 
Cerita yang hampir sama datang dari Oemah Sambel yang berlokasi di dekat kampus IPB Dramaga.
 
Ritanto selaku pemilik dari Oemah Sambel menjelaskan bahwa sejauh ini memang ada tawaran dari perusahaan seperti OVO dan Gojek untuk bekerjasama dalam hal pembayaran e-money.
 
“Memang ada tawaran dari OVO sebulan yang lalu, tapi kita masih terkendala di persyaratan dan administrasinya yang ribet.” kataRitanto.
 
Ritanto sebenarnya menerima instrumen Fintech dengan baik karena menurut beliau Fintech akan memudahkan pembayaran, tidak perlu menyiapkan uang secara berlebih untuk uang kembalian.
 
Menanggapi perihal revolusii ndustri 4.0, Ritanto menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan keharusan bagi semua bisnis untuk beradaptasi.

Ritanto berharap ada pendampingan khusus daripemerintah, supaya UMKM mampu mempersiapkan diri dengan baik.
 
Baik Foodpedia maupun Oemah Sambel sepakat bahwa Fintech akan memudahkan operasional usaha mereka terutama dari segi pembayaran.
 
Selain itu, Fintech juga bisa menjadi alat branding usaha mereka kepada konsumen.
 
Tanggapan mereka terkait dengan revolusi industri 4.0 juga menunjukkan bahwa mereka sepakat untuk harus dapat beradaptasi menghadapi era digital ini.
 
Foodpedia yang sudah menerapkan lebih dahulu tentu lebih paham mengenai dampak yang diberikan Fintech kepada usaha mereka.
 
Hal ini berbeda dengan Oemah Sambel yang belum menerapkan Fintech dalam usaha mereka.
 
Perbedaan ini mungkin disebabkan ketidaksamaan informasi serta tingkat pemahaman terkait Fintech.
 
Hal ini sejalan dengan pernyataan salah satu dosen Departemen Manajemen IPB, yaitu Eka Dasra Viana, SE, Ak, M. Acc, bahwa ada beberapa hal yang perlu dipastikan sebelum memperluas jaringan Fintech dan memperkenalkan industri 4.0 itu sendiri.
 
“Sebelum Fintech terlalu jauh sampai ke usaha-usaha kecil milik masyarakat, perlu dilakukan survei dan edukasi literasi keuangan.” jelasnya.
 
“Perkenalkan fungsi banklalupraktisi-praktisiperusahaanstartup yang bergerak di bidang Fintech,” lanjut salah satu dosen yang memang concern di bidang keuangan ini.

Survei dilakukan sejauh mana pengetahuan pelaku bisnis terutama mengenai Fintech dan risikonya.
 
Kemudian dapat dilakukan edukasi literasi keuangan kepada pelaku-pelaku bisnis tersebut.
 
Tentu ini menjadi tugas bersama dari pihak pemerintah maupun akademisi untuk terus menginformasikan kepada masyarakat untuk tahu mengenai perkembangan teknologi agar siap menyambut era revolusi industri 4.0 ini.
 
(Oleh : Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB/ Safrayuda Andrean, Ahmad Fauzan, Grafiyanto B.C.)
 
Artikel ini telah tayang di tribunnewsbogor.com dengan judul Kesiapan UMKM Menghadapi Kemajuan Fintech dan Hadirnya Industri 4.0, http://bogor.tribunnews.com/2018/12/27/kesiapan-umkm-menghadapi-kemajuan-fintech-dan-hadirnya-industri-40.
 
Editor: Yudhi Maulana Aditama 



Sumber : Tribunnews.com

Ilustrasi Fintech. Kesiapan UMKM Menghadapi Kemajuan Fintech dan Hadirnya Industri 4.0 medium.com/Michigan FinTech