LIPI: INDUSTRI MANUFAKTUR DAN UMKM PALING TERPUKUL AKIBAT COVID-19

LIPI: INDUSTRI MANUFAKTUR DAN UMKM PALING TERPUKUL AKIBAT COVID-19

Share : 29 December 2020
Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah melakukan diagnosa sektoral terhadap PDB 2020 akibat dampak pandemi covid-19.

Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Agus Eko Nugroho, menjelaskan diagnosa sektoral atas PDB 2020 selama pandemi kontribusi sektor seperti perdagangan besar dan eceran, transportasi pergudangan, dan penyediaan akomodasi makanan/minuman cukup resesif. Padahal, pada kondisi normal justru menjadi kontributor dominan dalam kontraksi perekonomian.

“Ironisnya, transformasi digital UMKM untuk memperluas pasar masih sangat terbatas dan pada saat yang sama, justru menarik simpanannya dari pembiayaan keuangan mikro (LPM) hingga menyebabkan kinerja keuangan dan kemampuan intermediasi LPM menjadi terganggu,” kata Agus dalam Keterangannya, Kamis (17/12/2020).

Selain itu, industri manufaktur dan UMKM menjadi entitas yang mengalami goncangan terberat selama masa pandemi.  Selanjutnya, Pusat Penelitian Ekonomi LIPI juga mencatat terjadinya lonjakan tabungan individu pada triwulan III/2020. 

Lonjakan ini sekaligus menyiratkan bahwa rumah tangga, terutama mereka yang berpenghasilan menengah atas, lebih memilih menabung daripada berbelanja sebagai imbas risiko ketidakpastian yang cenderung meningkat.

“Meskipun demikian, harus diakui adanya sedikit perbaikan ekonomi pada triwulan IV/2020, sehingga angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 akan secara optimis bertumbuh,” ujarnya.

Pada temuan lainnya Penelitian Ekonomi LIPI, menguraikan perlunya optimalisasi peran perdagangan antar pulau/daerah dan mendorong konsistensi program hilirisasi sumber daya alam guna memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global (Global Value Chain/GVC).

Selanjutnya, Agus menegaskan penting dilakukan penguatan inovasi industri manufaktur dan UMKM berbasis teknologi digital. Begitupun sangat penting mengatur tata kelola bantuan sosial (bansos) serta ketersediaan dan diversifikasi pangan.

“Terutama pangan lokal, untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat selama pandemi,” pungkasnya.



Sumber : Liputan 6